Muncul Nama Kiai Asep Jelang Muktamar NU ke-35, Imjaz: Paket Lengkap Rais Aam
- Istimewa
Cirebon, VIVA Jatim – Pertemuan Syuriah dan Tanfidziyah PBNU di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, pada Desember 2025 lalu menyepakati bahwa Muktamar NU ke-35 agar segera dilaksanakan. Nah, menjelang forum tertinggi Nahdlatul Ulama (NU) itu, muncul sejumlah nama ulama NU yang dinilai pantas menduduki posisi Rais Aam PBNU.
Salah satu nama yang mencuat ke permukaan ialah Ketum Pergunu yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet, Kabupaten Mojokerto, KH Asep Saifuddin Chalim.
“Kiai Asep adalah putra KH Abdul Chalim, salah satu ulama pendiri NU dan sahabat perjuangan KH Abdul Wahab Chasbullah,” kata KH Imam Jazuli dikutip VIVA Jatim pada Senin, 26 Januari 2026.
Kiai muda yang akrab disapa Imjaz itu menambahkan, sebagai ulama penting di masa awal NU, Kiai Asep memiliki hubungan sejarah dengan organisasi masyarakat terbesar di Indonesia tersebut.
“KH Abdul Chalim berperan besar dalam sejarah NU sebagai Sekretaris II, sementara KH. Abdul Wahab Chasbullah menjabat sebagai Sekretaris I,” ujarnya.
Kiai Asep, lanjut Imjaz, juga organisatoris sejati di lingkungan NU. Dalam dunia organisasi, Kiai Asep telah berproses di IPNU, PMII, Ansor dan mengabdi di NU sejak tingkat ranting hingga menjadi Ketua PCNU Surabaya dan Ketua PP Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) sejak 2011.
“Kiai Asep adalah santri tulen yang telah menempuh pendidikan di berbagai pesantren terkemuka, antara lain, Pesantren Cipasung, Jawa Barat, Pesantren Sono, Sidoarjo, Pesantren Siwalanpanji, Sidoarjo, Pesantren Gempeng, Bangil, Pesantren Darul Hadits, Malang, dan Pesantren Sidosermo, Surabaya, pun jejak aktifitas berorganisasi di NU dimulai dari bawah,” katanya.
Kiai Asep adalah sosok pendidik tranformatif yang mampu mendirikan pesantren bertaraf internasional. karena itu dia juga dikenal sebagai kiai pembaharu.
“Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah di Mojokerto dan Surabaya, Kiai Asep berhasil membangun sistem pendidikan berbasis pesantren yang bertaraf internasional,” tandas Imjaz.
Saat pertama kali menggagas pendirian Amanatul Ummah, banyak pihak merasa pesimis karena lokasi yang dianggap terpencil. Namun kini, pesantren tersebut berkembang pesat dan menampung lebih dari 10.000 santri, dengan prestasi akademik yang diakui hingga tingkat internasional.
Nah, di tengah kegaduhan dan krisis kepemimpinan yang terjadi di PBNU, Imjaz berpendapat bahwa Kiai Asep adalah tokoh yang layak menjadi Rais Aam PBNU karena bisa diterima oleh semua kalangan.
“Beliau dipastikan dapat menyelesaikan kisruh ini dan mengembalikan PBNU ke ruh dan cita awal didirikannya oleh para muassis NU,” tegas pengasuh pondok BIMA Cirebon itu.
Dengan rekam jejaknya yang panjang, Kiai Asep dinilai bukan hanya memiliki darah perjuangan NU, tetapi juga kapasitas intelektual, pengalaman organisasi, serta visioner dengan jaringan yang kuat di dunia pendidikan dan pemerintahan, menjadikannya figur paket lengkap Rais Aam PBNU 2026-2031.
“Banyak pihak percaya bila kepemimpinan Rais Aam di bawah Kiai Asep akan membawa NU kembali pada khittah perjuangan para pendirinya, sekaligus memperkuat peran NU, berkhidmat untuk umat dalam memajukan Indonesia di berbagai bidang strategis,” pungkas Kiai Imjaz.