Bagaimana Intervensi Koroner Menyelamatkan Pasien Serangan Jantung? Ini Penjelasan Guru Besar UNAIR
- VIVA Jatim/Rachmad Fahrizal Tito
Surabaya, VIVA Jatim – Penyakit jantung koroner masih menjadi momok global. Serangan jantung tercatat sebagai penyebab kematian tertinggi di dunia, dengan jutaan nyawa melayang setiap tahun akibat keterlambatan penanganan dan kerusakan otot jantung yang tak terhindarkan.
Di tengah tantangan tersebut, perkembangan teknologi intervensi koroner perkutan menjadi tumpuan harapan dalam menyelamatkan nyawa pasien. Teknologi ini memungkinkan pembukaan sumbatan pembuluh darah jantung secara cepat dan 1presisi, sehingga kerusakan jaringan jantung dapat ditekan dan risiko gagal jantung hingga kematian bisa diminimalkan.
Komitmen penguatan inovasi di bidang kardiovaskular itu tercermin dari langkah Universitas Airlangga (UNAIR) yang mengukuhkan Prof Dr I Gde Rurus Suryawan dr SpJP Subsp KI (K) sebagai Guru Besar Bidang Intervensi Koroner.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof Rurus mengungkapkan bahwa serangan jantung koroner terjadi akibat sumbatan mendadak pada arteri koroner yang menghambat suplai darah dan oksigen ke otot jantung. Tanpa penanganan cepat, kerusakan jaringan akan meluas dan berdampak fatal.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, serangan jantung menyumbang 17,8 juta kematian secara global. Menurut Prof Rurus, luas dan lamanya kerusakan otot jantung menjadi faktor penentu utama angka kematian pasien.
“Setiap menit keterlambatan berkontribusi pada semakin luasnya kerusakan otot jantung dan meningkatkan risiko kematian akibat aritmia, gagal jantung akut, hingga edema paru akut,” tegasnya.
Berangkat dari kondisi tersebut, intervensi koroner perkutan terus berevolusi. Mulai dari angioplasti balon hingga pemasangan stent, teknologi ini terbukti meningkatkan keberhasilan terapi sekaligus menurunkan risiko kolaps pembuluh darah setelah tindakan.
Perkembangan stent mengalami lompatan signifikan, dari bare-metal stents hingga drug-eluting stents yang mampu menekan risiko penyempitan ulang pembuluh darah. Namun, stent berlapis obat juga membawa tantangan baru, yakni kewajiban penggunaan terapi pengencer darah ganda dalam jangka panjang yang berisiko memicu perdarahan.
Menjawab tantangan tersebut, Prof Rurus menyoroti pengembangan bioresorbable vascular scaffold (BVS), stent yang dapat diserap tubuh setelah pembuluh darah kembali stabil.
“Jika teknologi BVS dapat dioptimalkan, fungsi fisiologis pembuluh darah koroner dapat tetap terjaga dan kebutuhan terapi anti-platelet jangka panjang bisa dikurangi,” jelasnya.