Viral Penjual Es Dawet di Mojokerto Dituduh Lecehkan Siswi SD
- Viva Jatim/M Luthfi
Mojokerto, VIVA Jatim – Sebuah video yang memperlihatkan penjual dawet di Mojokerto dilabrak emak-emak karena dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap siswi SD viral di media sosial. Penjual dawet dituduh melecehkan seorang siswi usai membantu menyeberangkan jalan.
Namun, setelah dilakukan penelusuran dan klarifikasi oleh pihak keluarga penjual es dawet, tuduhan tersebut tidak benar. Orang tua siswi itu pun telah meminta maaf.
Video viral itu pertama kali diposting oleh akun Knayas Umak pada Kamis, 5 Februari 2026 di Grup Facebook (FB) Info Lantas Mojokerto. Postingan Knayas Umak telah dihapus, namun telah beredar luas di media sosial dan memicu perhatian perhatian warganet.
Dalam video yang beredar, tampak seorang pria mengenakan kaus biru muda didatangi seorang ibu-ibu saat berjualan dawet di depan lapangan sepak bola Desa Jetis. Tanpa basa-basa, ibu-ibu ini langsung menuduh penjual dawet melakukan tindakan tak senonoh terhadap putrinya.
Penjual dawet disebut sempat menaruh tangan putrinya di kemaluan ketika membatu menyeberangkan jalan.
Belakangan diketahui penjual dawet itu bernama Selamet Riyadi (59) warga Dusun Kedungsumur, Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Mojokerto. Ia sehari-hari berjualan dawet menggunakan gerobak di depan lapangan sepak bola Desa Jetis.
Cucu angkat Selamet, Dhanik (24) mengatakan mengetahui video viral kakeknya di Grup Facebook (FB) Info Lantas Mojokerto pada hari itu juga sekitar pukul 19.30 WIB. Merespon kehebohan tersebut, ia langsung menghubungi akun Knayas Umak.
“Saya inbox akun yang menviralkan itu. Saya tanya alamatnya itu di mana (lokasi kejadian). Setelah itu saya tinggalkan nomor WhatsApp di inbox itu biar dihubungi. Akhirnya mbaknya itu memberi alamat, tapi rumah nenek dari siswi yang disabrangkan oleh Bapak (Slamet),” ungkap Dhanik kepada wartawan, Senin, 9 Februari 2026).
Saat itu juga, ia bersama saudara-saudaranya serta Slamet mendatangi rumah orang tua siswi di Komplek Perumahan Puri Mojobaru Canggu, Kecamatan Jetis. Tujuannya untuk meminta keterangan tuduhan itu.
Ketika diminta keterangan, orang tua siswi bersikeras menuduh sang kakek melakukan pelecehan seksual meski tanpa bukti valid. Sementara, Slamet membantah melakukan pelecehan.