2 Narapidana Terorisme Lapas Surabaya Ucapkan Ikrar Setia NKRI

Dua narapidana tindak pidana terorisme saat mengucapkan ikrar setia kepada NKRI, di Aula MD Arifin Lapas Kelas I Surabaya
Sumber :
  • VIVA Jatim/Ahaddiini HM

Surabaya, VIVA Jatim – Program deradikalisasi di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Surabaya Kantor Wilayah Direktur Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur kembali menunjukkan capaian positif. Dua narapidana tindak pidana terorisme (napiter) berinisial ZY dan FA mengucapkan ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

img_title Enam Lansia Dapat Remisi dari Lapas Kelas I Surabaya

Berlangsung di Aula MD Arifin Lapas Kelas I Surabaya, Rabu, 11 Februari 2026, ikrar setia NKRI ini sebagai bentuk komitmen meninggalkan paham radikal yang sebelumnya mereka anut.

Upacara ikrar setia disaksikan oleh Direktur Pembinaan Narapidana dan Anak Binaan Ditjenpas, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Densus 88 Antiteror, BINDA Jawa Timur, Kabid Pelayanan dan Pembinaan Kanwil Ditjenpas Jatim, Bakesbangpol Kabupaten Sidoarjo, Kementerian Agama Kabupaten Sidoarjo, dan unsur TNI dan Polri.

img_title Empat Warga Binaan Lapas Kelas I Surabaya Terima Remisi Hari Raya Nyepi 2026

Kalapas Kelas I Surabaya, Sohibur Rachman, mengatakan bahwa ZY dan FA telah melalui tahapan pembinaan yang menekankan pengenalan lingkungan, penataan kondisi emosional dan intelektual, serta proses netralisasi.

"Yang bersangkutan diberikan ruang untuk merenung, belajar, dan berinteraksi secara sosial dengan warga binaan lain yang memiliki latar belakang beragam, pendekatan pembinaan yang humanis dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan menjadi titik balik dalam perubahan cara pandang mereka," terangnya.

img_title Ratusan Warga Binaan Lapas Kelas I Surabaya Nikmati Buka Puasa Bersama Keluarga

Direktur Pembinaan Narapidana dan Anak Binaan Ditjenpas, Yulius Sahruzah, menyampaikan bahwa dengan pernyataan ikrar setia kepada NKRI ini, warga binaan telah siap untuk mencintai NKRI dan bersama-sama menjaga Pancasila dengan menghargai perbedaan yang ada.

"Pancasila bukan semata-mata hanya berkedudukan sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai ideologi nasional, pandangan hidup bangsa Indonesia, dan pemersatu bangsa," imbuhnya.

Yulius berharap ZY dan FA mampu menjadi anggota masyarakat yang sadar akan hak dan kewajiban sebagai individu maupun warga negara. 

"Kami berharap mereka memiliki sikap sebagai insan yang beriman dan bertakwa, mampu menempatkan diri secara proporsional sesuai fungsi dan tanggung jawab, memahami serta mematuhi ketentuan perundang-undangan, serta menjadi warga negara yang baik dalam mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera," pungkasnya.