Dies Natalis ke-43, Psikologi UNAIR Soroti Krisis Mental Health Anak Muda dan Dunia Kerja
- Rachmad Fahrizal Tito
Surabaya, VIVA Jatim-Dekan Fakultas Psikologi UNAIR, Dr. Dewi Retno Suminar, M.Si., Psikolog mengatakan pada Dies Natalis ke-43 Departemen Psikologi Universitas Airlangga kali ini ingin memberikan dampak langsung kepada masyarakat. Dewi tak ingin rangkaian perayaan hanya sekadae seremoni.
"Ada yang melalui jalur ini, ada juga yang kemarin hari Sabtu kita ada pengmas, pengabdian masyarakat di Temco Surabaya,” ujar Dewi Retno saat ditemui disela-sela perayaan Dies Natalis ke-43 Psikologi UNAIR, Kamis 12 Februari 2026.
Menurutnya, pengabdian masyarakat tersebut menyasar kelompok masyarakat secara langsung, terutama untuk membangun kesadaran terhadap pentingnya kesehatan mental. Karena mental health merupakan isu penting saat ini.
Perayaan ini juga menjadi momentum penting bagi Psikologi UNAIR untuk menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga hadir memberi solusi nyata bagi persoalan masyarakat, khususnya isu kesehatan mental yang semakin mengkhawatirkan.
Puncak Dies Natalis ke-43 Psikologi UNAIR juga diisi dengan orasi ilmiah yang menghadirkan sejumlah akademisi dan pakar yang membahas persoalan kesehatan mental dari berbagai perspektif. Seperti dari Prof. Dr Segerandoyo, Psikolog yang menyoroti isu kesehatan mental di dunia kerja.
Ada juga paparan dari Prof. Endang Retno Surjaningrum yang turut membahas isu serupa. Serta pemaparan dari Dr Nur Ainy Fardana Nawangsari yang berbicara mengenai fenomena yang saat ini semakin mengkhawatirkan di masyarakat, yakni jebakan AI yang kerap menjerat individu karena lemahnya literasi sejak dini.
“Seringkali orang-orang terperosok dengan AI karena mereka tidak mempunyai literasi, kemampuan literasi sejak dini. Oleh Ibu Dr. Nur Aini disampaikan tentang bagaimana mulai sejak dini mereka harus aware tentang literasi,” ungkap Dewi.
Dalam kesempatan itu, Dewi juga menyoroti kondisi mental generasi muda yang kini semakin rentan.
“Bagaimana sekarang banyak anak-anak muda bunuh diri, self harm karena mereka tidak siap mental,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa persoalan kesehatan mental tidak hanya dialami kelompok tertentu. Bahkan, pekerja yang secara ekonomi dianggap mapan pun masih berpotensi mengalami gangguan kesehatan mental.