Gerhana Bulan Total di Surabaya Tak Terlihat, Begini Penjelasan Ahli Astronomi Umsura
- VIVA Jatim/Rachmad Fahrizal Tito
Surabaya, VIVA Jatim – Fenomena gerhana bulan total yang terjadi pada Selasa (3/3/2026) malam tak dapat disaksikan warga Surabaya. Langit yang tertutup awan tebal setelah hujan deras membuat proses pengamatan di sejumlah titik, termasuk di kawasan kampus yang terletak di jl. Sutorejo 59 Surabaya itu juga gagal melihatnya.
Dosen Astronomi Fakultas Studi Islam dan Peradaban Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Andi Sitti Mariyam, menjelaskan bahwa secara astronomis gerhana bulan total seharusnya dapat terlihat sejak fase bulan terbit.
“Jadi mestinya saat magrib tadi, karena ini bulan purnama, dia akan terbit bersamaan dengan terbenamnya matahari. Nah, cuma sejak magrib tadi masih berawan sampai sekarang,” katanya saat ditemui di Rooftop At-Tauhid Tower Umsura, Selasa malam.
Ia menyebut fase total gerhana bulan berlangsung mulai pukul 18.04 hingga 19.02 WIB. Setelah itu, gerhana berangsur memasuki fase sebagian dan berakhir sekitar pukul 20.17 WIB. Namun sejak awal hingga menjelang fase akhir, kondisi langit di Surabaya belum menunjukkan tanda-tanda cerah.
“Di Surabaya, khususnya di Umsura, gerhana bulan kali ini tidak terlihat sama sekali karena awan cukup tebal,” tuturnya.
Pengamatan Gunakan Teleskop Refraktor
Dalam kegiatan observasi tersebut, tim pengamat telah menyiapkan teleskop refraktor berdiameter 71 mm yang dipadukan dengan kamera DSLR. Peralatan itu dinilai cukup memadai untuk menangkap detail permukaan bulan.
“Refraktor 71 mm ini sebenarnya mampu melihat detail permukaan bulan, termasuk kawah-kawah serta perbedaan terang dan gelapnya. Jadi kalau kondisi langit cerah, pengamatan mestinya cukup jelas,” ujarnya.
Meski pengamatan langsung tidak membuahkan hasil karena faktor cuaca, kegiatan tersebut tetap menjadi bagian dari edukasi astronomi bagi mahasiswa dan masyarakat. Momentum ini dimanfaatkan untuk memberikan pemahaman bahwa fenomena langit tidak hanya ditentukan oleh perhitungan astronomis, tetapi juga sangat bergantung pada kondisi atmosfer.
Menurut Andi, kegagalan observasi akibat cuaca merupakan hal yang lumrah dalam dunia astronomi. Justru dari situ mahasiswa belajar bahwa sains tidak hanya soal teori, tetapi juga kesiapan menghadapi variabel alam yang tidak dapat dikendalikan.
Fenomena gerhana bulan total sendiri terjadi ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus sehingga bayangan Bumi sepenuhnya menutupi Bulan. Dalam kondisi langit cerah, fase total biasanya ditandai dengan warna kemerahan pada permukaan Bulan.