Inovasi Wisata Budaya Berbasis Aplikasi Bawa Mahasiswi Untag Juara 2 ICIIC Malaysia 2026

Mahasiswi Untag Surabaya, Feriona Ayurizta Iliyas
Sumber :
  • Viva Jatim/Tito

Surabaya, VIVA JatimRasa penasaran sederhana saat berselancar di media sosial justru mengantarkan Feriona Ayurizta Iliyas ke panggung kompetisi internasional. Mahasiswi Program Studi Akuntansi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (Untag Surabaya) itu sukses meraih Juara 2 dalam ajang International Creative and Innovative Idea Competition 2026 (ICIIC) Malaysia 2026.

img_title Mahasiswa Untag Kembangkan AI Pendeteksi Anomali Keuangan UMKM

Perempuan kelahiran 2003 asal Surabaya tersebut awalnya tak menyangka unggahan pamflet lomba yang ia temukan saat libur Natal dan Tahun Baru di Instagram akan membawanya menjadi finalis kompetisi ide inovatif tingkat internasional.

“Saya suka iseng mencari informasi lomba, ternyata tiba-tiba lewat pamflet kompetisi ICIIC 2026 ini. Akhirnya saya screenshot dan melihat detailnya. Saya tertarik, lalu menyiapkan ide dan membuat abstrak untuk diseleksi. Alhamdulillah lolos menjadi finalis,” ujarnya, Rabu, 4 Maret 2026.

img_title Berawal dari Motornya yang Overheat, Mahasiswa Untag Surabaya Ciptakan Alat Deteksi Overheat Motor Berbasis IoT

ICIIC 2026 merupakan kompetisi internasional yang diselenggarakan The Innovator Generation bekerja sama dengan MNNF Network Malaysia. Ajang ini diikuti peserta dari kategori siswa, mahasiswa, hingga profesional untuk mendorong lahirnya ide kreatif di berbagai sektor, mulai sains, teknologi, kuliner, pariwisata hingga olahraga.

Feriona mengusung gagasan bertajuk “Multicultural Diversity and Cultural Heritage Festival for a Quality Economy Indonesia Golden Era 2045”. 

img_title PKKMB Untag Surabaya 2026 Hadirkan Tulus dan Yura Yunita, Ada Aktivis Lingkungan Dunia

Ide tersebut menawarkan konsep paket wisata interaktif berbasis aplikasi yang memungkinkan wisatawan memilih langsung pengalaman budaya yang diinginkan.

Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan budaya luar biasa yang belum sepenuhnya dikemas secara modern dan partisipatif.

“Saya berpikir bagaimana potensi budaya Indonesia bisa menarik wisatawan mancanegara sekaligus meningkatkan devisa sektor pariwisata,” tuturnya.

Lewat aplikasinya, wisatawan tidak hanya mendengarkan penjelasan pemandu, tetapi juga terlibat langsung dalam aktivitas khas daerah seperti memasak kuliner tradisional, membuat kain tenun atau batik, hingga mengikuti festival budaya dengan pendampingan mentor lokal.

“Biasanya wisatawan hanya mendengar penjelasan. Di konsep ini, mereka bisa mencoba langsung pengalaman budaya tersebut,” jelasnya.

Persiapan menuju kompetisi dilakukan sekitar satu setengah bulan. Feriona menyusun abstrak, karya ilmiah lengkap, poster, video presentasi berbahasa Inggris, hingga mempresentasikan idenya secara daring melalui Zoom di hadapan juri internasional.

Ia mengakui tantangan terbesarnya adalah waktu yang terbatas.

Halaman Selanjutnya
img_title