GINSI Khawatir Ketegangan Geopolitik Timur Tengah Ganggu Pasokan Bahan Baku Industri Dalam Negeri
- Istimewa.
Surabaya, VIVA Jatim-Ketua Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Jawa Timur, Hana Belladina mengaku khawatir ketegangan geopolitik di Timur Tengah akan mengganggu impor pasokan bahan baku untuk industri dalam negeri. Selain itu importir menilai konflik yang berkepanjangan akan memicu kenaikan harga komoditas.
“Konflik atau ketegangan geopolitik yang berlangsung beberapa hari saja sudah bisa memberi dampak tidak langsung bagi pelaku usaha di banyak negara, termasuk importir bahan baku di Indonesia,” kata Bella, panggilan akrab Hana Belladina di Surabaya.
Menurutnya, dampak tersebut umumnya muncul melalui jalur perdagangan global, logistik hingga pergerakan harga komoditas. Kondisi ini membuat importir harus bersiap menghadapi berbagai risiko yang dapat memengaruhi biaya produksi maupun ketersediaan bahan baku.
Salah satu dampak yang paling terasa adalah kenaikan harga bahan baku impor. Ketegangan geopolitik biasanya memicu kenaikan harga komoditas global seperti energi, logam, dan bahan kimia yang menjadi bahan baku industri.
Bella menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak dunia akan memicu peningkatan biaya produksi berbagai bahan baku industri. Dampaknya, harga barang impor juga ikut terdongkrak sehingga importir harus mengeluarkan biaya pembelian lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.
“Jika harga minyak dunia naik, biaya produksi bahan baku ikut meningkat dan pada akhirnya harga barang impor juga naik. Kondisi ini membuat margin keuntungan pelaku usaha menurun dan tidak jarang harga produk akhir terpaksa dinaikkan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa konflik di kawasan Timur Tengah juga berkaitan dengan dinamika harga minyak mentah dunia yang menjadi bahan baku penting bagi berbagai industri, termasuk industri plastik.
“Peperangan di kawasan tersebut menyebabkan harga crude oil yang menjadi bahan baku industri plastik dalam negeri maupun luar negeri, termasuk China, mengalami kenaikan. Dampaknya harga plastik naik sekitar 14,5 persen,” jelasnya.
Selain kenaikan harga, konflik geopolitik juga dapat mengganggu rantai pasok global. Jalur perdagangan internasional yang terdampak konflik dapat memaksa kapal pengangkut barang mengubah rute pelayaran sehingga waktu pengiriman menjadi lebih lama.
Menurut Bella, perubahan rute tersebut juga berpotensi membuat jadwal pengiriman tidak menentu. Akibatnya, bahan baku yang dibutuhkan industri dalam negeri bisa terlambat tiba di pelabuhan.