Owner Arisan Online di Mojokerto Buka Suara Usai Dilaporkan Tiga Member Soal Dugaan Penipuan
- M. Lutfi Hermansyah.
Mojokerto, VIVA Jatim-Owner arisan online di Mojokerto inisial EWK(36) dilaporkan polisi oleh tiga member terkait dugaan penipuan dan penggelapan. Usai dilaporkan, EWK kini angkat bicara.
Perempuan asal Kelurahan Gunung Gedangan, Kota Mojokerto, itu secara tegas menepis tudingan ketiga membernya. Dia justru menyebut ketiga anggotanya itu bermasalah hingga melanggar aturan arisan yang dikelola.
Kasus ini sebelumnya dilaporkan oleh tiga member arisan ”klot BOOM 15 Des 2022” dengan get Rp 100 juta pada Januari 2025. Mereka adalah Latifah (37) warga Kelurahan Purwotengah, Mansyur (43) warga Kelurahan Balongsari, Kota Mojokerto dan Amanatul Yusroh (35) warga Desa Sumolawang, Kabupaten Mojokerto.
Menurut EWK, arisan online berjalan sejak Desember 2022 dan seharusnya tuntas dua tahun kemudian atau Desember 2024, menyesuaikan jumlah 25 nomor arisan sesuai urutan.
”Di dalam grup Whatsapp itu ada 11 orang peserta arisan. Satu peserta ada yang ikut dobel dua nomor bahkan ada yang sampai tujuh nomor,” katanya kepada wartawan, Sabtu, 14 Desember 2025.
Di dalam kloter arisan itu terdapat sejumlah aturan yang wajib dipatuhi seluruh member. Antara lain, denda Rp 300 ribu per hari dan berlaku kelipatan bagi member yang telat bayar arisan tiap bulan. Hingga seluruh arisan yang telah dibayar akan hangus dan di-blacklist jika member mundur di tengah jalan.
“Aturan ini juga sudah ada dan dicantumkan di grup Whatsapp masing-masing kloter,” tandas pengusaha kafe itu.
Dia juga menyoroti persoalan yang dialami salah satu membernya, Latifah. Bandar arisan online ini menguraikan, Latifah bergabung di tengah arisan berjalan pada April 2023 dengan ikut dua nomor sekaligus.
Latifah disebut menggantikan peserta lain yang sebelumnya mundur karena tak membayar iuran selama beberapa bulan. Latifah wajib membayar arisan senilai Rp 7,8 juta per bulan. Namun, ia mengklaim pembayaran yang dilakukan Latifah tak lancar sejak awal.
“Pembayarannya juga dicicil. Tapi, setelah berjalan, beberapa kali telat dan akhirnya tidak ada pembayaran lagi,” ucapnya.
Menurutnya, sempat ada kesepakatan untuk menangguhkan arisan milik Latifah selama dua bulan untuk melihat komitmen pembayaran selanjutnya. Akan tetapi, pembayaran yang dijanjikan tak kunjung berjalan lancar.