Tradisi Kupatan Durenan Trenggalek, Satu Rumah Bisa Siapkan 5 Kg Siap Masak Ketupat
- Madchan Jazuli
Trenggalek, VIVA Jatim – Menjelang perayaan Lebaran Ketupat atau "Kupatan" yang jatuh pada H+7 Idulfitri, kesibukan mulai terlihat di kediaman warga Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek. Tradisi turun-temurun ini menjadi momen yang paling dinantikan, bahkan melebihi kemeriahan hari pertama Idulfitri bagi masyarakat setempat.
Mochamad Cholid Huda, salah seorang warga Durenan yang juga merupakan guru di SMPN 1 Durenan sekaligus keturunan kelima dari tokoh ulama Mbah Mesir, menuturkan bahwa persiapan pembuatan ketupat biasanya sudah dimulai sejak dua hari sebelum hari H (H-2).
"Pembuatan ketupat kami lakukan sendiri setiap tahun bersama keluarga dan anak-anak. Meskipun sekarang banyak yang menjual ketupat jadi, kami memilih membeli janur dan menganyamnya sendiri agar tradisinya tetap terasa," ujar Huda saat ditemui di kediamannya.
Untuk memenuhi kebutuhan jamuan tamu, Huda setidaknya menyiapkan sekitar 80 buah ketupat. Bahan baku janur ia peroleh dari pasar tradisional Durenan atau pengepul lokal dengan harga berkisar Rp30.000 hingga Rp35.000 per ikat (bongkok).
Huda menjelaskan, satu ikat janur berukuran kecil rata-rata bisa menghasilkan 40 hingga 50 buah ketupat. Jenis ketupat yang dibuat pun beragam, mulai dari jenis ketupat bawang hingga ketupat tompo.
"Jenis yang umum digunakan adalah ketupat bawang. Namun, untuk janur yang bagian ujungnya kecil, biasanya dibuat menjadi ketupat tompo agar ukurannya tetap proporsional. Untuk 80-an ketupat, kami menghabiskan sekitar lima kilogram beras," jelasnya.
Proses perebusan ketupat di Durenan masih mempertahankan cara tradisional demi menjaga kualitas rasa dan ketahanan. Menurut Huda, proses perebusan dilakukan pada H-1 dan membutuhkan waktu yang cukup lama.
"Perebusan biasanya memakan waktu sekitar tiga jam. Memang ada metode cepat, tetapi hasilnya tidak awet dan cepat basi. Jika direbus lama, ketupat bisa bertahan dan tidak mudah berbau," tambahnya.
Mengenai hidangan pendamping, Huda menyebutkan bahwa sayur nangka muda atau tewel tetap menjadi menu wajib yang tak tergantikan sejak dahulu, lengkap dengan taburan bubuk kedelai yang khas. Namun, seiring perkembangan zaman, variasi menu mulai bertambah dengan adanya bakso, pindang, sate, hingga aneka es buah.