SD Negeri Simbaringin Mojokerto Diobok-obok Maling, Delapan Laptop dan Satu Proyektor Raib
- M. Lutfi Hermansyah
Mojokerto, VIVA Jatim-SD Negeri Simbaringin di Desa Simbaringin, Kecamatan Kutorejo, Mojoketo diobok-obong maling. Delapan unit laptop dan satu unit proyektor raib.
Pencurian ini pertama kali diketahui penjaga sekolah, Suparno (50), pada Rabu, 8 April 2026 sekitar pukul 05.00 WIB. Saat itu, ia hendak membersihkan area sekolah.
Ia mendapati gembok pintu ruang kantor rusak. Ketika dicek ke dalam, ruangan tersebut sudah dalam kondisi acak-acakan.
“Saya mau menyapu, melihat gembok pintu ruang kantor dicongkel. Anak saya bilang pintu kantin juga dicongkel. Terus saya masuk kantor lewat kantin, setelah masuk melihat kondisi ruangan sudah acak-acakan,” kata Suparno kepada wartawan di lokasi.
Suparno langsung mendokumentasikan kondisi ruangan yang acak-acakan dengan ponselnya. Kemudian ia kirim ke WhatsApp Grup guru dan melaporkannya ke Kepala Sekolah SD Simbaringin, Dwi Kurniawan.
Oleh Dwi, Suprano diminta untuk mengecek barang yang hilang di lemari ruang kantor. Berdasarkan hasil pengecekan, diketahui bahwa laptop sudah raib.
Tak lama, para guru-guru yang telah tiba di sekolah memberitahu kepada Suparno jika jendala kelas 4,5, dan 6 juga rusak akibat dicongkel.
“Sekitar 06.30 WIB saya lapor ke Polsek Kutorejo. Saat saya lapor ke polsek, gurunya telepon dan memberitahu kalau laptop di kelas juga hilang,” ungkap Suparno.
Kepala Sekolah SD Simbaringin, Dwi Kurniawan menyampaikan, total barang yang hilang 8 laptop dan 1 proyektor. Rinciannya, 4 unit laptop cromebook, 1 unit laptop bantuan Merah Putih, 1 unit laptop pembelian dari dana BOS, dan 2 unit laptop milik pribadi guru.
“Totalnya ada 8 laptop dan 1 proyektor. 7 laptop serta proyektor ada di ruangan kantor dan 1 laptop ada di kelas,” ungkap Dwi.
Hilangnya laptop ini mengakibatkan persiapan Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk 19 siswa SD tersebut terganggu.
“Ini kan menghadapi TKA, otomatis saya harus berupaya mencari laptop untuk 19 siswa. Paling tidak kita membutuhkan 10 unit untuk pengadaan baru atau pinjam,” terang Dwi.
Atas peristiwa ini, jajaran kepolisian dari Polsek Kutorejo bersama Polres Mojokerto masih melakukan penyelidikan. Polisi telah melalukan olah TKP dan memeriksa sejumlah saksi antara lain penjaga sekolah dan guru yang pertama kali mengetahui kasus tersebut.