Ginsi Jatim Siapkan Langkah Strategis di Tengah Tekanan Ekonomi Global
- Rahmat Fajar
Surabaya, VIVA Jatim-Badan Pengurus Daerah Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Jawa Timur periode 2026–2031 resmi dilantik, di Surabaya, Kamis, 9 April 2026. Ini menjadi momentum penting bagi penguatan peran importir di tengah tekanan ekonomi global yang kian kompleks. Berbagai langkah strategis pun disiapkan.
Ketua Umum Ginsi, Subandi berharap Ginsi Jatim menjadi organisasi yang lebih profesional dan transparan. Di samping itu juga, Subandi juga mendorong Ginsi Jatim berpihak kepada importir.
"Sehingga setiap permasalahan dan persoalan yang dihadapi oleh anggota itu bisa dijembatani dan dicarikan solusi," ujarnya saat pelantikan BPD Ginsi Jatim.
Subandi menegaskan di tengah geopolitik Timur Tengah yang bergejolak akibat perang, Ginsi harus mengambil peran untuk mencarikan solusi yang dihadapi importir. Sebab, konflik tersebut pasti memberikan dampak signifikan. Pemerintah didorong agar segera mencarikan solusi.
Sementara itu, Ketua Ginsi Jawa Timur, Hana Belladina, menegaskan bahwa pelantikan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan awal dari tanggung jawab besar dalam mendorong kontribusi organisasi terhadap perekonomian daerah.
“Momentum ini bukan sekadar seremoni, melainkan titik awal dari sebuah tanggung jawab besar untuk membawa GINSI Jawa Timur semakin berperan dalam menggerakkan roda perekonomian daerah,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa Jawa Timur merupakan salah satu motor penggerak ekonomi nasional, sehingga peran importir menjadi sangat vital dalam menjaga keberlangsungan industri.
Berdasarkan data yang ada, sekitar 79 hingga 80 persen bahan baku industri di Jawa Timur masih bergantung pada impor. Oleh karena itu kelancaran arus barang menjadi faktor penentu stabilitas produksi.
“Artinya, keberlangsungan industri, stabilitas produksi, hingga daya saing ekspor nasional sangat ditentukan oleh kelancaran arus barang impor yang kita kelola,” jelasnya.
Namun demikian, kondisi global saat ini dinilai tidak sedang baik-baik saja. Konflik geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah memicu gejolak signifikan di sektor energi dan logistik dunia.
Lonjakan harga minyak dunia serta terganggunya jalur distribusi, terutama di kawasan strategis seperti Selat Hormuz, berdampak langsung pada meningkatnya biaya logistik dan ketidakpastian pasokan.