Pakar Strategi Bisnis ITS Paparkan Pentingnya Ketahanan ini Energi Nasional

Kepala Pusat Studi PIKP ITS Dr Ir Arman Hakim Nasution MEng
Sumber :
  • VIVA Jatim/Tito

Surabaya, VIVA Jatim – Memanasnya kondisi geopolitik dunia yang terjadi di kawasan pemasok energi menyebabkan krisis energi menjadi topik utama di dunia saat ini. Kondisi ini membuat banyak masyarakat Indonesia mempertanyakan pasokan energi bangsa ini ke depannya.

img_title Tak Benar BBM Naik, Pertamina Imbau Warga Tetap Tenang

Menanggapi kekhawatiran tersebut, pakar strategi bisnis Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr Ir Arman Hakim Nasution MEng memaparkan beberapa usulan kebijakan yang dapat dikaji dan diterapkan oleh pemerintah Indonesia mengenai ketahanan energi nasional.

Menurut Arman, situasi ini terjadi akibat konflik berkepanjangan antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS). Jalur strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi perlintasan utama perdagangan minyak dunia berada dalam risiko terganggunya proses distribusi.

img_title Usulan Strategi Hemat Energi Tanpa Mengorbankan Produktivitas

“Hal inilah yang menjadi kekhawatiran seluruh dunia karena berpotensi memicu lonjakan harga pasokan bahan bakar minyak (BBM),” ujarn Arman. Rabu, 22 April 2026.

Dosen Departemen Manajemen Bisnis ITS ini menambahkan bahwa ketegangan konflik di kawasan Timur Tengah tidak hanya berpotensi berdampak pada pasokan energi, tetapi juga merambat ke sektor ekonomi lainnya. Kenaikan harga BBM juga dapat menyebabkan melonjaknya harga bahan-bahan industri seperti plastik dan pupuk.

img_title DPR Minta BUMN Energi Serius Lakukan Mitigasi Hadapi Dampak Konflik AS-Iran

“Prinsip ekonomi itu saling terhubung, ketika sektor energi terganggu maka sektor lainnya juga pasti akan terdampak,” bebernya.

Di samping itu, Indonesia masih berstatus sebagai negara yang bergantung pada pasokan energi impor. Sebanyak 49,5 persen kebutuhan BBM dan 80 hingga 84 persen Liquefied Petroleum Gas (LPG) Indonesia masih dipenuhi oleh pasokan luar negeri. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan energi yang tinggi tidak sebanding dengan produksi dalam negeri.

“Keadaan ini cukup mengkhawatirkan karena kondisi geopolitik yang masih tidak menentu,” ungkapnya.

Lebih lanjut, lelaki berkacamata itu menjelaskan bahwa ketergantungan energi impor ini akan menjadi pemicu masalah lainnya yang kemudian juga berpengaruh terhadap stabilitas ekonomi nasional. Dalam krisis seperti ini, gejolak ekonomi khususnya di bidang energi dapat memicu tekanan sosial. Masyarakat yang semakin terdesak dengan kebutuhan energi dan bahan pokok akan menjadi masalah utama dalam menjaga kedaulatan negara.

Alumnus doktoral dari Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut juga menyoroti bahwa permasalahan ini tidak hanya disebabkan oleh keterbatasan pasokan energi dari luar akibat geopolitik yang sedang terjadi. Ia menekankan bahwa hal ini juga disebabkan lemahnya kemampuan pengolahan energi dalam negeri.

Halaman Selanjutnya
img_title