Kadindik Jatim Nilai Karya Murid SMKN 12 Surabaya Berkelas Industri dan Bernilai Jual di Pameran Seni

Kadindik Jatim, Aries Agung Paewai.
Sumber :
  • Rachmad Fahrizal Tito

Surabaya, VIVA Jatim-Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur mengapresiasi gelaran pameran seni yang diselenggarakan SMKN 12 Surabaya pada 22–23 April 2026. Pameran tersebut dinilai tidak sekadar menjadi ajang unjuk karya, tetapi juga bagian dari evaluasi akhir murid kelas XII yang diwujudkan dalam produk nyata.

img_title Siswa SMA Negeri 1 Bojonegoro Raih Gelar Duta SMA Nasional 2026

Kaindik Jatim, Aries Agung Paewai menyampaikan bahwa karya yang ditampilkan siswa mencerminkan hasil pembelajaran yang matang sesuai jurusan masing-masing, mulai dari seni rupa, animasi, kriya, hingga tata busana.

“Ini bukan sekadar pameran, tapi bagian dari ujian praktik siswa. Mereka menghasilkan karya yang kualitasnya sangat tinggi, bahkan sudah masuk kategori industri, meski dikerjakan di lingkungan sekolah,” ujarnya.

img_title Jatim Dominasi FIKSI 2026, 24 Tim Lolos ke Nasional Terbanyak se-Indonesia

Berbagai karya yang dipamerkan antara lain kerajinan logam seperti besi dan tembaga, kriya kayu, hingga lukisan. Produk-produk tersebut dinilai menunjukkan bahwa siswa telah menekuni bidang keahlian sebagai bekal profesi di masa depan.

Selain kualitas, Dindik Jatim juga menyoroti tingginya minat pasar terhadap karya siswa. Dari hasil pameran, sekitar 80 persen produk dilaporkan terjual.

img_title Dilantik Jadi Kepala SMAN Taruna Madani Jatim, Iva Evry Siap Perkuat Karakter dan Kepemimpinan Taruna

“Ini baru murid, belum masuk industri sebenarnya, tapi sudah mampu menarik pasar. Artinya mereka punya potensi besar untuk bersaing di dunia usaha dan dunia industri,” jelasnya.

Dindik Jatim menilai capaian tersebut perlu didukung dengan peningkatan kompetensi serta penguatan sarana dan prasarana. Dengan pembinaan yang tepat, siswa SMK diyakini mampu meningkatkan daya saing, khususnya di sektor industri kreatif.

Pihaknya juga mendorong adanya identifikasi kebutuhan sekolah sebagai dasar kolaborasi antara Dindik, pihak sekolah, dan pemangku kepentingan lainnya.

“Kami minta kepala sekolah dan guru mengidentifikasi kekuatan dan kekurangan. Dari situ nanti kita bisa menentukan dukungan yang dibutuhkan untuk meng-upgrade kualitas pendidikan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Dindik Jatim berharap SMKN 12 Surabaya dapat menjadi rujukan (benchmark) bagi sekolah lain, khususnya dalam pengembangan pendidikan berbasis seni dan industri kreatif.

Menurutnya, sektor industri kreatif di Indonesia masih memiliki tantangan, terutama dalam pengembangan produk khas bernilai jual tinggi. Potensi tersebut dinilai besar jika digarap secara serius.

“Kita masih didominasi produk kuliner, sementara produk kreatif khas daerah seperti kerajinan dan suvenir belum optimal. Padahal ini punya peluang besar,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya
img_title