YPTA Surabaya Soroti Tata Kelola dan Internasionalisasi PTS di Workshop ABP PTSI 2026
- Istimewa
Surabaya, VIVA Jatim-Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 Surabaya (YPTA) Surabaya mendorong penguatan tata kelola perguruan tinggi swasta (PTS) yang lebih adaptif dan berkelanjutan melalui keikutsertaan dalam workshop nasional yang digelar Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABP PTSI).
Workshop bertajuk “Penguatan Tata Kelola Yayasan/Badan Penyelenggara untuk Mewujudkan Perguruan Tinggi Swasta yang Unggul, Akuntabel, dan Berkelanjutan” ini berlangsung pada 29–30 April 2026 di Bidakara Hotel Jakarta.
YPTA Surabaya hadir dengan formasi lengkap yang terdiri dari Ketua Pengurus YPTA Surabaya J. Subekti, Sekretaris YPTA Surabaya IGN. Anom Maruta, Bendahara YPTA Surabaya Ontot Murwato S. serta melibatkan Rektor Untag Surabaya Harjo Seputro, dan Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia Eddy Wahyudi, sebagai peninjau.
Ketua Pengurus YPTA Surabaya, J. Subekti, menyebut keterlibatan pimpinan universitas dalam forum badan penyelenggara menjadi bagian dari upaya membangun transparansi dan komunikasi yang sehat.
“Kami melibatkan rektor sebagai peninjau agar apa yang dibahas di tingkat yayasan juga diketahui oleh pimpinan universitas. Ini bentuk keterbukaan kami,” ujar J Subekti, Senin, 4 Mei 2026.
Workshop ini diikuti lebih dari 200 peserta dari berbagai perguruan tinggi swasta di Indonesia, mulai dari wilayah barat hingga timur.
Menurut Subekti, tingginya partisipasi menunjukkan besarnya kebutuhan PTS untuk saling berbagi pengalaman serta mencari solusi atas tantangan pendidikan tinggi.
“Ini menunjukkan kebutuhan untuk saling menguatkan dan mencari solusi bersama atas berbagai tantangan yang dihadapi PTS,” katanya.
Dalam forum tersebut, YPTA Surabaya turut membagikan pengalaman dalam mengelola yayasan, salah satunya melalui prinsip organisasi yang efektif dan adaptif.
“Kami menggunakan prinsip miskin struktur, kaya fungsi. Struktur tidak perlu besar, tapi harus efektif agar setiap persoalan bisa cepat diputuskan dan diselesaikan,” tegasnya.
Selain tata kelola internal, workshop juga membahas strategi pengembangan perguruan tinggi, termasuk kerja sama internasional. Subekti menekankan bahwa internasionalisasi kampus tidak sekadar menjalin kerja sama, tetapi harus mampu membawa manfaat nyata bagi pengembangan pendidikan nasional.
“Ilmu dan pengalaman dari luar negeri harus bisa diadaptasi sesuai kebutuhan Indonesia,” ujarnya.