Badut di Mojokerto Minum Darah Korban Setelah Bunuh Mertua dan Lukai Istri
- Viva Jatim/M Luthfi
Mojokerto, VIVA Jatim – Satuan (43), teg membunuh mertua dan melukai istrinya. Pria yang bekerja sebagai badut penjual mainan anak-anak ini meminum darah korban setelah melakukan aksinya.
Motif penganiayaan ini karena masalah ekonomi dan asmara. Tragedi berdarah bermula pada Rabu, 6 April 2026 pagi. Saat itu, Satuan dan istrinya, Sri Wahyuni (36) terlibat pertengkaran hebat. Dalam kondisi emosi yang meluap, Satuan membenturkan wajah istrinya ke tembok hingga korban mengalami luka serius dan bersimbah darah.
Nahas, saat penganiayaan berlangsung, sang mertua, Siti Arofah (53), masuk melalui pintu belakang rumah. Kedatangan Siti membuat Satuan panik. Secara spontan, ia mengambil pisau dapur dan menikam perut serta leher mertuanya hingga korban tewas di tempat.
Kepada polisi, Satuan mengaku meminum darah korban usai kejadian. Aksi di luar nalar tersebut diakuinya sebagai bentuk peluapan amarah yang memuncak.
Kapolres Mojokerto AKBP Andi Yudha Pranata membenerkan pengakuan tersangka terkait meminum darah korban. Namun, ia masih akan mendalami lebih lanjut.
“Kita dalami lagi, ada informasi (meminum darah korban) tapi tidak ada saksi. Sehingga muncul friksinya. Kalau hanya pengakuan tersangka agaknya masih lemah,” ungkapnya saat konferensi pers, Kamis, 7 Mei 2026.
Andi mengungkapkan, tindakan nekat tersangka dipicu oleh akumulasi kemarahan akibat kombinasi rasa cemburu dan permasalahan ekonomi yang menahun.
Kepada penyidik, Satuan mengaku curiga sang istri berselingkuh. Selain itu, kondisi finansial keluarga yang tidak stabil sering memicu keributan. Penghasilan tersangka dari mengamen badut, berjualan balon, serta mainan keliling dianggap tidak mencukupi kebutuhan rumah tangga.
“Motifnya pertama, yang bersangkutan cemburu. Kedua, istrinya dianggap tidak bertanggung jawab terhadap keluarga. Dan ketiga, persoalan ekonomi. Di keluarga ini nampaknya ada disparitas antara korban (Wahyuni) dan suami,” beber Andi.
Sementara, Satuan membunuh Siti karena dipicu kepanikan. Sebab, kehadiran Siti membuat Satuan secara spontan mengambil pisau dapur dan menikam perut serta leher mertuanya hingga tewas seketika di lokasi kejadian.
“Tersangka menghabisi nyawa mertuanya murni karena panik saat aksinya terhadap Wahyuni tepergok. Meski sebelumnya mereka memang sering berselisih, namun penikaman tersebut dipicu kondisi panik sesaat,” tambah Andi.