Kapolres Ungkap Kondisi Istri Badut di Mojokerto yang Dianiaya
- M. Lutfi Hermansyah
Mojokerto, VIVA Jatim-Kapolres Mojokerto, AKBP Andi Yudha Pranata, mendatangi rumah korban kasus pembunuhan ibu mertua dan melukai istri di Dusun Sumbertempur, Desa Sumbergirang, Puri. Andi menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.
Tak hanya fokus pada penegakan hukum, Andi memutuskan untuk membantu biaya pengobatan Sri Wahyuni (36), istri yang menjadi korban penganiayaan oleh suaminya sendiri, Satuan (43). Selain itu juga memberikan santunan berupa uang tunai bagi anak-anak dan keluarga korban.
Pantaun VIVA Jatim di lokasi pada Jumat, 8 April 2026, Andi mengunjungi rumah mendiang ibu kandung Wahyuni, Siti Arofah (53). Rumah Siti hanya berjarak sekitar 50 meter dari rumah kontrakan Satuan dan Wahyuni.
Andi terlihat berbincang dengan keluarga korban sembari mengucapkan bela sungkawa. Juga menyapa 2 anak dan 1 adik Sri Wahyuni.
Kedatangan Kapolres Mojokerto dan jajaranya ini untuk menggali fakta-fakta baru dari sisi keluarga dan lingkungan sekitar, guna mendapatkan gambaran utuh (cover both sides) atas peristiwa yang melibatkan Satuan, pria yang bekerja sebagai badut jalanan tersebut.
Sri Wahyuni, istri yang menjadi korban penganiayaan tersangka, dikabarkan telah diperbolehkan pulang dari RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo untuk menjalani rawat jalan. Namun, sempat terkendala biaya pengobatan yang tidak ter-cover BPJS.
“Malam hari ini, karena anak bungsunya merindukan ibunya, saya minta tim untuk jemput dan mempertemukan mereka. Terkait kendala pembiayaan non-BPJS, saya mengajak jajaran Polres untuk ramai-ramai membantu. Kami akomodir kebutuhan medis dan sembako bagi keluarga,” ujar Andi.
Andi menegaskan fokus utama saat ini adalah melindungi masa depan tiga anak. Anak bungsu dari Wahyuni yang masih berusia 3 tahun akan diberikan pendampingan komunikasi yang tepat agar tidak mengalami trauma atau kebingungan atas apa yang menimpa orang tuanya.
“Kepentingan anak menjadi prioritas. Kami juga berkoordinasi dengan Kepala Desa (Kades) untuk mitigasi lingkungan agar anak-anak ini tidak dikucilkan atau menjadi sasaran framing negatif di masyarakat,” tegasnya.
Satuan telah mengungkapkan motif tega membunuh mertua dan menganiaya Istrinya kepada polisi. Aksi sadis itu dipicu rasa cemburu terhadap istrinya, ditambah dengan masalah ekonomi.