Kasus Badut di Mojokerto Bunuh Mertua-Lukai Istri, Keluarga Korban Bantah Tudingan Pelaku

Keluarga Korban Saat Menjamu Kapolres Mojokerto
Sumber :
  • M. Lutfi Hermansyah

Mojokerto, VIVA Jatim-Pihak keluarga Siti Arofah (53) dan Sri Wahyuni (36) akhirnya angkat bicara untuk menanggapi pengakuan Satuan (43), tersangka pembunuhan dan penganiayaan di Dusun Sumbertempur, Desa Sumbergirang, Puri, Mojokerto.

img_title Dulu Jadi Korban Pemerkosaan Lesbian, Kini Janda di Mojokerto Jadi Tersangka Penipuan

Keluarga menegaskan bahwa pernyataan pelaku terkait motif ekonomi dan perselingkuhan adalah upaya memutarbalikkan fakta.

“Tidak benar (Wahyuni selingkuh). Tidak ada buktinya,” kata paman Wahyuni, Safuan (50), kepada wartawan, Sabtu, 9 April 2026.

img_title Pengakuan Maling Dapur SPPG di Mojokerto, Barang Curian Dijual Murah

Sepupu dari Sri Wahyuni, Jumiati (36) membeberkan, kondisi ekonomi keluarga yang karut-marut justru disebabkan oleh perilaku buruk Satuan, bukan karena tuntutan gaya hidup istrinya.

Dia mengungkapkan bahwa Satuan terjerat utang karena sempat main judi online (judol). Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa BPKB sepeda motor digadaikan oleh pelaku untuk modal berjudi. Tak hanya itu, Satuan disebut memiliki banyak utang di bank keliling namun mengatasnamakan istrinya.

img_title Maling Kuras Isi Dapur SPPG di Mojokerto Ternyata Spesialis Bobol Sekolah dan Perkantoran

"Itu memutar balikkan fakta. Katanya istri minta uang perawatan dan belanja sendiri, itu tidak benar. Karena banyak utang, Istri justru pernah ikut membantu jualan seblak hingga bekerja nyablon di Jampirogo. Dia bahkan rela bersepeda pancal dari rumah ke tempat kerja," ungkap Jumiati, Sabtu, 9 April 2026.

Terkait pekerjaan Satuan sebagai badut keliling dengan membawa anaknya, Jumiati menyebut pihak kelurga telah melarang. Namun, Satuan memaksa dan dinilai mengeksploitasi anaknya yang masih kecil untuk menarik simpati warga agar mendapatkan uang lebih banyak.

“Dia (Satuan) pernah 2 kali terjaring razia Satpol PP saat ngamen membawa anak yang pertama di Surabaya, itu pun yang mengurusi istrinya (Wahyuni). Dan kedua terjaring di Mojosari. Terus yang ketiga anaknya yang besar sudah tidak mau ikut ngamen lagi, terus mengajak yang kecil itu biar dapat uang banyak. Kalau mengajak anak kecil itu kan banyak yang kasihan,” beber Juamiati.

Jumiati tak mengetahui secara pasti berapa keuntungan yang didapat Satuan dari hasil badut dan jualan mainan anak-anak.

"Kalau cerita istrinya, kalau bawa anak kecil keuntungannya lebih besar, bisa Rp200 ribu sampai Rp400 ribu sehari. Tapi yang dikasihkan ke istrinya cuma Rp100 ribu, sisanya entah ke mana,” ungkapnya.

Halaman Selanjutnya
img_title