Ashanti Raih Gelar Doktor di Unair, Judul Disertasinya Sempat Ditolak Empat Kali

Penyanyi Ashanti Hastuti Usai Sidang Terbuka Disertasi di Unair.
Sumber :
  • Rachmad Fahrizal Tito

Surabaya, VIVA Jatim-Penyanyi sekaligus publik figur Ashanti Hastuti menjalani ujian doktor terbuka Program Studi Doktor Pengembangan Sumber Daya Manusia Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Rabu, 13 Mei 2026.

img_title Heboh Gaji Dosen Non ASN Lulusan Luar Negeri Rp2,6 Juta, Unair Buka Suara

Dalam sidang terbuka tersebut, Ashanti mempertahankan disertasi berjudul “Respon Adaptif Penyanyi Baby Boomers dan Generasi X terhadap Transformasi Digital di Industri Musik Indonesia.”

Perjalanan meraih gelar doktor diakui Ashanti bukan hal mudah. Di tengah kesibukannya sebagai penyanyi, istri, ibu hingga nenek, ia harus melewati proses akademik panjang yang penuh revisi.

img_title Terkait Sejoli Mesum, Unair Panggil Ortu hingga Periksa Penyebar Video

“Alhamdulillah setelah melewati perjuangan panjang berkat promotor saya yang luar biasa ini. Kalau bukan karena Pak Suko mungkin aku enggak selesai dari sini. Selalu memotivasi, selalu memberikan energi positif bahwa tidak boleh menyerah, harus berjuang sampai titik akhir,” ujar Ashanti.

Ashanti mengungkapkan dirinya sempat beberapa kali ingin menyerah sejak awal perkuliahan. Bahkan, judul disertasinya sempat ditolak hingga empat kali.

img_title Mahasiswi Gelapkan Dana KIP-K Rp103 Juta, Unair: Wajib Mengembalikan Sebelum Lulus

“Ditolak judul empat kali. Judul pertama ditolak, kedua, ketiga, bahkan saya sudah publikasi juga, tapi ditolak lagi. Jadi judul keempat baru diterima,” katanya.

Meski memiliki banyak aktivitas di dunia hiburan dan keluarga, Ashanti tetap berupaya menyelesaikan pendidikan doktoralnya dengan baik.

“Aku sangat bangga buat orang-orang yang masih mau belajar di umur yang mungkin sudah tidak muda lagi. Aku juga kesibukan istri, ibu, nenek, kerjaan banyak, ikut lomba dan banyak hal, tapi tetap berusaha bagaimana harus selesai dengan baik,” ujarnya.

Ia berharap hasil penelitiannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan industri musik Indonesia, khususnya terkait kemampuan musisi lintas generasi menghadapi era digital.

“Semoga bisa berguna buat industri musik Indonesia. Walaupun terlihat hanya perbandingan antara baby boomers dan Gen X dalam beradaptasi di digital, tapi yang dibahas dan dibedah banyak sekali,” katanya.

Promotor Ashanti, Suko Widodo, menegaskan tidak ada perlakuan khusus selama proses akademik berlangsung meski Ashanti merupakan publik figur.

“Saya kira tidak ada kompromi. Mau artis, mau anak presiden, apa pun dalam pengetahuan saya sama haknya. Ashanti telah memenuhi kedisiplinan sebagai seorang akademisi dan konsisten,” ujar Suko.

Halaman Selanjutnya
img_title