UNAIR dan TCSC IAKMI Gelar ICTOH 2026, Wamenkes Soroti Ancaman Vape dan Adiksi Nikotin
- VIVA Jatim/Tito
Surabaya, VIVA Jatim – Universitas Airlangga bersama Tobacco Control Support Center Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia menggelar 11th Indonesian Conference on Tobacco Control (ICTOH) 2026 dengan tema Ungkap Adiksi Tembakau dan Nikotin untuk Indonesia Sehat.
Konferensi ilmiah berskala nasional tersebut berlangsung di Aula Ternate ASEEC Tower Kampus Dharmawangsa-B UNAIR, Surabaya mulai Rabu hingga Jumat, 20-22 Mei 2026.
Kegiatan ini mendapat dukungan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, World Health Organization, Campaign for Tobacco-Free Kids, Vital Strategies, serta jaringan pengendalian tembakau di Indonesia.
Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Community Development UNAIR, Muhammad Miftahussurur mengapresiasi terselenggaranya konferensi tersebut karena dinilai memiliki dampak besar terhadap upaya pengendalian tembakau di Indonesia.
“Tema yang diangkat sangat dekat dan relevan dengan masalah kesehatan di Indonesia. Tidak hanya masalah rokok yang angkanya semakin meningkat, tetapi konsumsi rokok elektrik juga menunjukkan tren kenaikan,” ujarnya, Kamis, 21 Mei 2026.
Menurutnya, generasi muda kini menjadi sasaran utama berbagai produk tembakau dan nikotin, termasuk vape atau rokok elektrik.
“Hari ini, pengendalian tembakau itu bukan hanya tentang kesehatan, tapi juga generasi dan masa depan bangsa,” katanya.
Ia menegaskan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendukung pemerintah melalui penguatan riset, inovasi, hingga advokasi kebijakan pengendalian tembakau.
Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan RI, Benjamin Paulus Octavianus menyoroti ancaman adiksi nikotin yang dinilai dapat menghambat kualitas generasi muda Indonesia di masa depan.
Menurutnya, program pengentasan stunting yang menelan anggaran besar akan sulit optimal jika pengeluaran rumah tangga masih didominasi konsumsi rokok.
“Mencetak manusia unggul itu jauh lebih mahal daripada membangun jalan tol Jakarta-Surabaya. Kita harus sadar, tugas negara adalah memastikan anggaran ini tepat sasaran untuk kecerdasan bangsa, bukan habis menjadi asap,” ujar dr Benjamin.
Sebagai dokter spesialis paru, ia juga mengingatkan bahaya vape yang kini mulai dimanfaatkan sebagai medium penyalahgunaan narkotika.
Ia mengaku telah berkoordinasi dengan Badan Narkotika Nasional untuk memperkuat pengawasan terhadap peredaran zat adiktif melalui liquid vape.
“Saya dan Kepala BNN akan terus mendorong pemeriksaan ketat dan regulasi yang tegas agar anak-anak muda kita tidak terjebak adiksi ganda. Jangan sampai mereka mau sehat dengan berolahraga, tapi justru terpapar narkoba lewat liquid vape yang mereka gunakan,” tegasnya.