Target CHT Naik, Bahan Baku Dibatasi, Kadin Jatim Sebut Ada Kontradiksi Kebijakan

Ketua Komite Tetap Hubungan Antar Lembaga Negara dan Pemerintahan KADIN Jawa Timur, Saifuddin Alamsyah.
Sumber :
  • Kadin Jatim.

Surabaya, VIVA Jatim-Rencana pemerintah membatasi kadar nikotin 1 mg dan tar 10 mg dalam produk rokok menuai kritik dari berbagai kalangan.

img_title Rumuskan Kurikulum Berbasis Industri, Kadin Jatim dan Swisscontact Siapkan Fasilitator JOA

Ketua Komite Tetap Hubungan Antar Lembaga Negara dan Pemerintahan KADIN Jawa Timur, Syaifuddin Alamsyah, menilai kebijakan tersebut berpotensi bertabrakan dengan target pemerintah untuk mengoptimalkan penerimaan negara dari Cukai Hasil Tembakau (CHT) pada 2027.

Menurut Saifuddin, terdapat paradoks dalam arah kebijakan yang sedang disusun pemerintah. Di satu sisi, pemerintah menempatkan CHT sebagai salah satu sumber penerimaan negara yang akan terus dioptimalkan. Namun di sisi lain, muncul rencana regulasi yang dinilai dapat mengganggu keberlangsungan industri hasil tembakau nasional.

img_title Kadin Jatim Dorong Kajian Komprehensif terkait Rencana Penerapan Kebijakan Penyeragaman Kemasan Rokok

"Ini seperti satu tangan membangun, sementara tangan yang lain meruntuhkan. Pemerintah ingin meningkatkan penerimaan dari cukai hasil tembakau, tetapi pada saat yang sama menyiapkan regulasi yang berpotensi mematikan mesin produksinya sendiri," ujar Saifuddin, Surabaya, Minggu, 31 Mei 2026.

Pendiri Pusat Studi Pembangunan Berbasis Pancasila itu menjelaskan, berdasarkan dokumen Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027, pemerintah secara jelas menempatkan sektor cukai hasil tembakau sebagai instrumen penting dalam optimalisasi pendapatan negara.

img_title Kadin Jatim Ajak SPPG Duduk Bersama, Cari Solusi untuk Keberlanjutan MBG

Karena itu, menurutnya, keberlangsungan produksi dan penjualan produk hasil tembakau menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan apabila pemerintah ingin mencapai target penerimaan yang telah ditetapkan.

"Logikanya sederhana. Jika ingin memperoleh penerimaan cukai yang besar, maka industri yang menjadi sumber penerimaan tersebut harus tetap berjalan. Tidak ada negara yang menaikkan target pajak sambil secara bersamaan mempersempit ruang hidup objek pajaknya," katanya.

Saifuddin menyoroti rencana pembatasan kadar nikotin maksimal 1 mg yang dinilainya sulit diterapkan pada kondisi industri tembakau nasional saat ini. Ia menyebut sebagian besar tembakau lokal memiliki kadar nikotin alami di atas batas yang direncanakan dalam regulasi tersebut.

"Sekitar 90 persen tembakau lokal memiliki kadar nikotin alami antara 2 hingga 8 mg. Jika batas 1 mg dipaksakan, maka sebagian besar hasil panen petani berpotensi tidak terserap industri karena tidak memenuhi ketentuan yang ditetapkan," ujarnya.

Kondisi tersebut, lanjutnya, tidak hanya berdampak pada industri rokok, tetapi juga berpotensi memukul petani tembakau di berbagai daerah sentra produksi seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Lombok hingga Sumatera Utara.

Halaman Selanjutnya
img_title