Terekam CCTV, Aksi Premanisme di Surabaya Berujung Pemuda tak Bersalah Babak Belur
- Istimewa
Surabaya, VIVA Jatim-Aksi premanisme diduga kembali terjadi di Kota Surabaya. Seorang pemuda bernama Louis Prasetya (22) menjadi korban pengeroyokan brutal oleh sekelompok orang di kawasan pergudangan PT Agrimax, Jalan Tanjungsari, Surabaya, pada Sabtu, 30 Mei 2026.
Mirisnya, korban diduga menjadi sasaran pelampiasan kemarahan para pelaku meski tidak mengetahui persoalan yang sedang terjadi. Louis disebut tidak memiliki masalah pribadi dengan para pelaku, namun justru menjadi korban kekerasan yang mengakibatkan dirinya mengalami luka di sejumlah bagian tubuh dan trauma psikologis.
Kasus ini kini ditangani Polsek Sukomanunggal. Polisi telah mengamankan satu orang tersangka. Sementara pelaku utama dan sejumlah terduga pelaku lainnya masih dalam pengejaran.
Peristiwa tersebut menjadi perhatian setelah rekaman kamera pengawas (CCTV) yang berada di lokasi kejadian memperlihatkan aksi pengeroyokan yang dilakukan secara bersama-sama terhadap korban. Rekaman itu disebut memperlihatkan korban dipukul, dibanting, hingga dikerumuni oleh sejumlah orang.
Kakak korban, Natalia, mengungkapkan bahwa insiden tersebut diduga berawal dari persoalan yang melibatkan dirinya dengan seorang pria bernama Yusuf alias Haji Yus.
Natalia mengaku menerima telepon dari pria tersebut pada Sabtu sore. Dalam percakapan itu, ia mengaku mendapat makian, kata-kata kasar, hingga tantangan untuk bertemu di lokasi tertentu.
"Dia menelepon saya sambil marah-marah dan menantang untuk menunggu. Saya tunggu hampir satu jam, tetapi yang bersangkutan tidak datang," kata Natalia, kepada wartawan, Kamis, 4 Juni 2026.
Setelah menunggu cukup lama tanpa ada pihak yang datang, Natalia memutuskan meninggalkan lokasi menuju kawasan PTC Surabaya. Namun di tengah perjalanan, ia menerima telepon dari adiknya yang mengabarkan baru saja menjadi korban pengeroyokan sekitar pukul 18.12 WIB.
Mendapat kabar tersebut, Natalia langsung bergegas menuju lokasi kejadian. Namun saat tiba di tempat kejadian perkara (TKP), orang yang diduga menjadi pelaku utama sudah tidak berada di lokasi.
Menurut Natalia, adiknya sama sekali tidak mengetahui persoalan yang terjadi sebelumnya. Karena itu keluarga mempertanyakan alasan korban menjadi sasaran pengeroyokan yang dilakukan secara beramai-ramai.
"Adik saya tidak tahu apa-apa soal masalah ini. Tetapi justru dia yang menjadi korban pengeroyokan," ujarnya.