IPK Indonesia Wilayah Jatim Dorong Setiap Puskesmas Punya Psikolog Klinis
- Rachmad Fahrizal Tito
Surabaya, VIVA Jatim-Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia Wilayah Jawa Timur mendoronh keberadaan psikolog klinis berizin resmi di seluruh puskesmas. Hal tersebut berdasarkan atas temuan bahwa hampir 10 persen anak di Jawa Timur mengalami gejala kecemasan dan depresi.
Dorongan itu mengemuka dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) IPK Indonesia Wilayah Jawa Timur yang digelar di Surabaya, Sabtu, 20 Juni 2026.
Ketua IPK Indonesia Wilayah Jawa Timur, Toetiek Septriasih, menegaskan penguatan layanan kesehatan jiwa di tingkat primer harus menjadi prioritas, mengingat semakin tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan psikologis yang mudah diakses.
"Fokus itu diwujudkan dengan keberadaan psikolog klinis di puskesmas," ujar Toetiek.
Menurut dia, kehadiran psikolog klinis di fasilitas kesehatan tingkat pertama akan mempercepat deteksi dini berbagai gangguan kesehatan mental sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan psikologis profesional.
Namun demikian, Toetiek menekankan bahwa setiap psikolog klinis yang bertugas wajib memiliki legalitas lengkap sesuai ketentuan perundang-undangan.
"Legalitasnya harus lengkap, yaitu STR yang diterbitkan oleh Konsil Kesehatan Indonesia dan SIP yang diterbitkan oleh pemerintah kota atau kabupaten setempat," katanya.
Urgensi penguatan layanan kesehatan jiwa tersebut sejalan dengan temuan Dinas Kesehatan Jawa Timur yang menunjukkan meningkatnya masalah kesehatan mental pada kelompok usia anak dan remaja.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Jawa Timur, Cicik Swi Antika, mengungkapkan hasil program cek kesehatan gratis menemukan cukup banyak anak yang menunjukkan gejala gangguan psikologis.
"Hasil pelaksanaan cek kesehatan gratis menunjukkan bahwa hampir 10 persen anak yang telah menjalani skrining mengalami gejala kecemasan dan depresi," ujarnya.
Meski pemerintah daerah terus mengintegrasikan layanan kesehatan jiwa ke dalam pelayanan dasar puskesmas, tantangan terbesar saat ini masih terletak pada pemerataan tenaga kesehatan mental.
Menurut Cicik, banyak wilayah di Jawa Timur yang masih kekurangan tenaga psikolog klinis, terutama di daerah terpencil dan kepulauan.
"Ketersediaan tenaga kesehatan jiwa, termasuk psikolog klinis, belum merata di seluruh wilayah. Terutama pada daerah terpencil, kepulauan, dan wilayah dengan keterbatasan sumber daya kesehatan," katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Muswil IPK Jatim, Gerdaning Tyas Jadmiko, mengatakan forum empat tahunan tersebut menjadi momentum untuk merumuskan langkah strategis menghadapi berbagai persoalan kesehatan mental yang berkembang di masyarakat.