Jelang Muktamar 2026, FORBES NU Gelar Rembug Warga Bahas Dana, Kekuasaan, dan Independensi PBNU
- Istimewa
Depok, VIVA Jatim-Jelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026, sejumlah kader, akademisi, pengasuh pesantren, dan pegiat masyarakat sipil yang tergabung dalam Forum Bersama (FORBES) NU 26 akan menggelar Rembug Warga NU Serial II bertajuk "Dana, Kekuasaan, dan Independensi PBNU: Siapa Membiayai, Siapa Memengaruhi."
Koordinator FORBES NU, KH Abdul Waidl, menegaskan bahwa forum ini bukan ditujukan untuk menghakimi ataupun mengarahkan kritik kepada kepengurusan tertentu. Sebaliknya, kegiatan ini merupakan ruang refleksi bersama agar warga NU dapat membaca secara jernih tantangan tata kelola organisasi yang telah muncul lintas periode kepemimpinan.
"Muktamar bukan hanya momentum memilih pemimpin, tetapi juga kesempatan memperkuat sistem. NU yang besar membutuhkan tata kelola yang besar pula: transparan, akuntabel, dan independen dari segala bentuk intervensi kepentingan," ujar KH Abdul Waidl di Depok, Sabtu, 27 Juni 2026.
Menurutnya, tantangan terbesar NU hari ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan membangun sistem organisasi yang mampu menjamin transparansi dan akuntabilitas siapa pun yang memimpin. Selama hampir satu abad, kekuatan NU bertumpu pada kepercayaan warga, keteladanan para kiai, serta tradisi pengabdian yang tumbuh dari pesantren dan masyarakat.
"NU dibangun oleh keringat warga, para kiai, dan jaringan pesantren. Karena itu, masa depan organisasi tidak boleh ditentukan oleh logika kekuasaan atau ketergantungan pada segelintir pemodal. Independensi organisasi adalah syarat utama agar NU tetap mampu menjadi penuntun moral bagi bangsa," tuturnya.
Forum ini akan mengangkat berbagai isu strategis, mulai dari akuntabilitas pengelolaan keuangan organisasi, kemandirian sumber pendanaan, hingga penguatan hubungan antara struktur kepemimpinan dan warga NU di tingkat akar rumput. FORBES NU menilai isu pendanaan harus dibahas secara terbuka melalui tata kelola yang profesional, bukan sekadar menjadi polemik politik.
"Organisasi yang besar tidak diukur dari seberapa kuat menutup kritik, tetapi dari seberapa berani membuka ruang evaluasi dan memperbaiki diri. Kepercayaan warga hanya dapat dijaga melalui transparansi dan akuntabilitas," katanya.
Melalui forum ini, peserta juga akan mendorong penerapan prinsip-prinsip good governance dalam tubuh NU agar pengelolaan dana umat dilakukan secara amanah, profesional, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada warga. Rembug Warga NU akan dilaksanakan pada Minggu, 28 Juni 2026, pukul 13.00–17.00 WIB, di Universitas Terbuka, Jalan Cabe Raya, Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, dengan format Syawir Terbuka yang memberi ruang dialog langsung antara narasumber dan warga NU.