Santri Ponpes BIMA Tembus Rusia hingga China, Gus Muhaimin: Ini Modal Indonesia Emas
- Istimewa
"Santri harus memenuhi tiga syarat. Pertama memiliki skill dan kemampuan. Kedua memiliki integritas. Ketiga taat asas terhadap ilmu pengetahuan," urainya.
Ia juga mengingatkan para wisudawan bahwa Indonesia tengah menikmati bonus demografi yang akan menentukan arah bangsa beberapa tahun ke depan.
"Kalau sekarang kalian lulus, berarti tahun 2030 kalian sudah mulai memegang kendali. Muhaimin Iskandar boleh gagal, tetapi lulusan BIMA tahun 2030 tidak boleh gagal. Modal kalian sangat besar, dan bonus demografi itu mutlak ada di tangan kalian," tegasnya.
Sementara itu, Pengasuh Ponpes BIMA, KH Imam Jazuli, menyampaikan rasa syukur atas capaian para santri yang terus meningkat setiap tahun. Ia mengungkapkan target pesantren untuk melahirkan 1.000 sarjana di kampus internasional dan 1.000 sarjana di perguruan tinggi negeri dalam negeri diperkirakan akan tercapai lebih cepat dari target.
"Target kami tahun 2028 harus ada 1.000 sarjana di kampus internasional dan 1.000 sarjana di PTN nasional. Namun melihat perkembangan saat ini, insyaallah target tersebut akan tercapai pada tahun 2027," ungkapnya.
Tahun ini, sebanyak 175 santri akan melanjutkan studi ke berbagai negara seperti Rusia, Tiongkok, Tunisia, dan sejumlah negara di Timur Tengah. Selain itu, 99 santri diterima di berbagai perguruan tinggi negeri di Indonesia, mayoritas pada program studi umum.
KH Imam Jazuli menjelaskan bahwa bahkan santri yang berangkat ke Timur Tengah tidak hanya mengambil studi keagamaan.
"Dari 13 santri yang berangkat ke Tunisia, hanya dua orang yang mengambil bidang agama. Selebihnya mengambil bidang-bidang umum," ujarnya.
Menurutnya, pilihan program studi juga disesuaikan dengan kebutuhan strategis bangsa. Antara lain jurusan pertambangan hingga persenjataan. Ia menegaskan, pesantren saat ini tidak cukup hanya mencetak santri yang saleh, tetapi juga harus melahirkan generasi yang mampu memberikan manfaat nyata bagi bangsa.
"Saya ingin menggerakkan pesantren-pesantren secara nasional agar memiliki visi yang sama, bukan sekadar mencetak santri yang saleh, tetapi juga mencetak santri yang bermanfaat, membangun negeri, dan menguasai berbagai bidang ilmu yang dibutuhkan negara," pungkasnya.