ITS Kembangkan Teknologi Pirolisis, Sampah Plastik Berhasil Diubah Jadi Bahan Bakar Alternatif

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan teknologi pirolisis
Sumber :
  • VIVA Jatim/Tito

Surabaya, VIVA Jatim – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan teknologi pirolisis untuk mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar alternatif ramah lingkungan di Desa Pesanggrahan, Kota Batu, Jawa Timur.

img_title Lewat Proyek PSEL, Gresik- Lamongan Kolaborasi Sampah Disulap Jadi Listrik

Program pengabdian kepada masyarakat tersebut menjadi upaya ITS membantu desa mengurangi timbunan sampah plastik sekaligus menciptakan sumber energi bernilai ekonomi.

Ketua tim pengabdian ITS, Lucky Putri Rahayu, mengatakan program ini tidak hanya menghadirkan teknologi, tetapi juga membangun kemampuan masyarakat agar mampu mengoperasikan sistem pengolahan sampah secara mandiri.

img_title Dihukum Bayar Rp104 M Usai Kalah Gugatan Kelola Sampah, Ini Kata Pemkot Surabaya

"Melalui program ini kami ingin menghadirkan solusi yang aplikatif terhadap persoalan sampah plastik di tingkat desa. Teknologi pirolisis menjadi jembatan antara pengelolaan lingkungan dan pemanfaatan energi alternatif. Harapannya, masyarakat tidak hanya mampu mengurangi timbunan sampah, tetapi juga memperoleh nilai ekonomi baru dari limbah yang sebelumnya tidak termanfaatkan secara optimal," ujar Lucky saat pelatihan dan implementasi alat di Desa Pesanggrahan.

Program yang didanai Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi itu melibatkan perangkat desa, pengurus bank sampah, PKK, kader lingkungan, LPMD, hingga Karang Taruna.

img_title Memasuki Usia ke-9 Tahun, StatsMe Berharap Membawa Keberkahan

Tim ITS juga memberikan pelatihan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular sekaligus mengoperasikan sistem pirolisis yang mampu mengolah limbah plastik menjadi minyak pirolisis.

Desa Pesanggrahan dipilih karena telah memiliki fasilitas pengelolaan sampah terpadu berupa TPS3R, lahan pengelolaan sampah sekitar 2.000 meter persegi, serta kelompok pengelola sampah yang aktif. Namun, keterbatasan kapasitas tempat pemrosesan akhir (TPA) membuat desa membutuhkan inovasi untuk mengurangi volume sampah yang dibuang.

Melalui teknologi pirolisis, limbah plastik seperti HDPE dan PP diproses pada suhu tinggi hingga berubah menjadi minyak pirolisis yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Pada uji coba awal, tim ITS mengolah 7 kilogram limbah plastik pada suhu 350-400 derajat Celsius dan berhasil menghasilkan sekitar 140 hingga 150 mililiter minyak pirolisis.

Hasil pengujian sederhana menunjukkan minyak tersebut dapat langsung terbakar saat disulut api, menandakan memiliki potensi nilai kalor yang cukup tinggi sebagai sumber energi alternatif.

Anggota tim pengabdian, Dr. Dra. Melania Suweni Muntini, MT, menegaskan keberhasilan teknologi tetap bergantung pada perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah.

Halaman Selanjutnya
img_title