Polisi Buka Sayembara Tangkap Pembunuh Sekretaris DPRKP Bangkalan Tapi Dibantah Polda Jatim
- Ahaddiini HM/VIVA Jatim
Surabaya, VIVA Jatim-Salah seorang anggota Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim, Aipda Sigit Dwi Susanto menuai sorotan usai dirinya mengaku telah membuka sayembara penangkapan terduga pembunuh Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Kabupaten Bangkalan, RYS (51).
Sayembara diumumkan di akun TikTok pribadinya @hellboyjatanraspolda. Hellboy, begitu sapaan akrab Aipda Sigit Dwi Susanto, juga menyampaikan telah menyiapkan uang sebesar Rp20 juta yang akan diberikan kepada siapa saja bila berhasil menangkap terduga pembunuh RYS, yakni E dalam kondisi hidup.
Menurutnya, langkah itu diambil karena terduga pelaku diduga terus berpindah-pindah tempat dan masih mendapat bantuan dari pihak lain selama dalam pelarian.
"Jadi, pelaku semakin berpindah-pindah, akhirnya kami inisiatif. Inisiatif pribadi untuk mempersempit ruang pelaku bergerak, jadi biar semua netizen peduli," ujarnya, Rabu, 8 Juli 2026.
Dia berharap publikasi secara luas dapat membuat pelaku semakin sulit bergerak.
"Kita mau mempersempit ruang gerak pelaku ini. Masalahnya kan dia masih ada yang nampung, pindah masih ada yang nampung. Nah, ini kan kalau viral sekalian, ruang geraknya makin sempit," lanjutnya.
Namun, pernyataan tersebut justru dibantah oleh jajaran pimpinan Polda Jatim. Kabidhumas Polda Jatim Kombes Jules Abraham Abast menegaskan, tidak ada sayembara yang digelar institusinya terkait pengejaran terduga pelaku pembunuhan ASN Bangkalan tersebut.
"Enggak ada," timpal Jules.
Hal senada disampaikan Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Arbaridi Jumhur. Ia memastikan hingga saat ini kepolisian masih fokus melakukan pengejaran terhadap pelaku.
"Tidak [ada sayembara], minta doanya saja biar [pelaku] cepat tertangkap," ucap Jumhur.
RYS ditemukan meninggal dunia di dalam mobil dinas yang terparkir di area Terminal 1 Bandara Internasional Juanda pada Rabu, 24 Juni 2026. Dugaan pembunuhan menguat setelah tim forensik menemukan sejumlah tanda kekerasan pada tubuh korban, di antaranya luka robek pada cuping telinga kiri akibat benturan benda tumpul serta indikasi yang mengarah pada kematian akibat asfiksia atau mati lemas.
Sosok E, juga diyakini sebagai terduga pelaku pembunuhan lantaran terlihat terakhir kali bersama korban. Hal itu sebagaimana hasil rekaman kamera CCTV di area Bandara Internasional Juanda Surabaya.