Jelang Muktamar, Forbes NU 26 Soroti Arah Diplomasi PBNU dan Jebakan Normalisasi Israel
- Istimewa
Jakarta, VIVA Jatim-Forum Bersama (Forbes) NU 26 akan menggelar Rembug Warga NU Seri 3 dengan tema "NU DI TENGAH BADAI DUNIA BARU: Menggugat Arah Diplomasi PBNU & Jebakan Normalisasi Israel?", Minggu, 12 Juli 2026 di Jakarta. Forum ini menjadi kelanjutan dari seri debat warga sebelumnya yang menyoroti karut-marut tata kelola dan transparansi pendanaan di tubuh PBNU.
Koordinator Forbes NU 26, KH. Abdul Waidl, menegaskan bahwa warga NU tidak boleh lagi bersikap pasif melihat organisasi Islam terbesar di dunia ini hanya dijadikan penonton. Lebih buruk lagi apabila sekadar komoditas stempel pemanis oleh poros kekuatan global tertentu.
"Diplomasi NU belakangan ini terasa kehilangan taji, terjebak dalam romantisasi forum seremonial, dan miskin pengaruh konkret. Kita merindukan era Gus Dur yang mampu berdansa dengan berbagai kekuatan dunia tanpa kehilangan harga diri dan posisi tawar NU. Saat ini, ada kesan kita terlalu condong mengejar validasi dan pengakuan dari Barat," ujar Abdul Waidl, Sabtu, 11 Juli 2026.
Forum nanti akan membedah sejumlah noktah hitam yang memicu keresahan warga Nahdliyin di akar rumput. Mulai dari manuver kunjungan sekelompok kader NU ke Israel yang melukai solidaritas kemanusiaan, hingga penyusupan aktor-aktor yang ditengarai membawa agenda terselubung normalisasi Israel dalam ruang kaderisasi strategis sekelas Akademi Kepemimpinan NU.
Forbes NU 26 menilai PBNU gagal membaca pergeseran peta dunia baru yang kini bergerak ke arah multipolar. PBNU juga dikritik karena kerap menyederhanakan tragedi kemanusiaan dan penjajahan di Palestina sebatas komoditas isu "toleransi" dan "dialog antaragama" yang bias Barat.
Kiai Abdul Waidl mengungkapkan bahwa muncul pertanyaan di kalangan warga apakah sikap melunak tersebut merupakan kompensasi demi membuka keran aliran dana dari lembaga donor internasional?.
"Kerja sama internasional itu keharusan, tapi jangan sampai demi proposal donor, kita menggadaikan independensi dan membiarkan diri kita didikte. NU adalah kekuatan moral masyarakat sipil, bukan perpanjangan tangan kepentingan geopolitik asing," tambah Abdul Waidl.
Tiga narasumber akan hadir dalam forum nanti yakni Prof. Dr. A. Hanief Saha Ghafur (Guru Besar SKSG UI & Pengurus PBNU). Dia akan membedah posisi NU dari kacamata ketahanan nasional, serta mendesak pentingnya strategi ilmiah jangka panjang agar organisasi tidak gagap dan reaktif terhadap tekanan global.