Bangun Ekosistem Ekonomi Baru, Menteri Transmigrasi Dorong Transmigran Melek Digital
- Istimewa
Surabaya, VIVA Jatim – Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara mendorong transformasi kawasan transmigrasi menjadi ekosistem ekonomi baru dengan melatih para transmigran menguasai pemasaran digital untuk memperluas akses pasar hasil produksi mereka.
Hal itu disampaikan Iftitah saat menghadiri Peresmian FYC Fest 2026 Festival Ekosistem Digital di Convention Center Tunjungan Plaza 3, Surabaya, Sabtu, 11 Juli 2026.
Menurut Iftitah, paradigma transmigrasi saat ini tidak lagi sekadar memindahkan penduduk ke daerah baru, melainkan membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal, ilmu pengetahuan hingga teknologi digital.
"Kita ingin ini tidak hanya menjadi insentif dari pemerintah, tetapi stimulus untuk menciptakan dan membangun ekosistem ekonomi yang baru. Jadi, penempatan transmigran itu bukan hanya dipindahkan, tetapi bagaimana mereka bisa tumbuh dan sejahtera," ujarnya.
Ia menjelaskan, selama ini kawasan transmigrasi memiliki dua kekuatan utama, yakni lahan dan sumber daya manusia. Kedua potensi tersebut kini dipadukan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui program pendampingan di kawasan transmigrasi.
Kementerian Transmigrasi pun menggandeng 10 perguruan tinggi terbaik di Indonesia, di antaranya Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya dan Universitas Hasanuddin.
Para guru besar, doktor, dan sarjana dari perguruan tinggi tersebut diterjunkan ke 154 kawasan transmigrasi untuk melakukan pendampingan dan pemberdayaan masyarakat.
Iftitah mencontohkan, di Lembah Tongoa, Sulawesi Tengah, pendapatan transmigran meningkat signifikan setelah mendapat pendampingan dari sumber daya manusia unggul. Penghasilan warga yang sebelumnya sekitar Rp3 juta per bulan melonjak menjadi Rp13 juta per bulan.
Selain pendampingan, pemerintah juga mendorong akses permodalan dan membuka pasar melalui skema offtaker. Salah satu contohnya adalah ekspor durian dari kawasan transmigrasi di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, ke Tiongkok.
Menurut dia, pendekatan tersebut dilakukan agar para transmigran tidak lagi hanya memproduksi komoditas, tetapi juga memiliki akses pasar yang lebih luas, termasuk pasar internasional.
Iftitah menilai ekonomi digital menjadi salah satu instrumen penting untuk memperluas pasar produk-produk kawasan transmigrasi. Karena itu, pihaknya akan melibatkan para pelaku ekonomi digital dan afiliator untuk membantu mempromosikan berbagai produk unggulan dari kawasan transmigrasi.