Disertasi Pangi Syarwi di Unair Bongkar Penyebab Split Ticket Voting, Bukan karena Figur Calon

Pangi Syarwi dan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto di Unair.
Sumber :
  • Rachmad Fahrizal Tito

Surabaya, VIVA Jatim-Pengamat politik sekaligus pendiri Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, mengungkap temuan menarik dalam ujian terbuka Program Doktor Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair), Senin, 20 Juli 2026.

img_title Sudah Digunakan Ratusan Siswa MPLS, Waskita Karya Pastikan Keamanan Bangunan Sekolah Rakyat di Tuban

Penelitiannya menyimpulkan bahwa figur calon bukan faktor utama yang menyebabkan pemilih memecah pilihan (split ticket voting) pada pemilu serentak.

Temuan tersebut diperoleh dari penelitian terhadap 1.600 responden di Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mengkaji perilaku pemilih dalam memilih calon legislatif dan calon presiden.

img_title KKN Umsura Hasilkan 38 Inovasi, Emil Dardak Dorong Masuk E-Katalog Pemerintah

Dalam ujian terbuka yang berlangsung di Ruang Adi Sukadana, Gedung A FISIP Unair, Pangi mempertahankan disertasi berjudul "Suatu Studi tentang Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Split Ticket Voting pada Pemilu Serentak di Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Timur".

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Structural Equation Modeling-Partial Least Square (SEM-PLS). Sebanyak 800 responden berasal dari Sumatera Barat dan 800 responden lainnya dari NTT.

img_title Hasil Survei Kepuasan Prabowo Turun, Hasto Kristiyanto : Bahan Evaluasi Pemerintah

Pangi menjelaskan, risetnya menguji empat variabel utama, yakni orientasi isu, personalisasi kandidat, identifikasi partai (party identification), serta orientasi persamaan kepentingan yang mencakup aspek klientelistik maupun programatik.

Hasil penelitian menunjukkan faktor yang memengaruhi perilaku pemilih berbeda di setiap daerah.

"Di Sumatera Barat yang paling berpengaruh adalah isu. Sementara di NTT yang paling berpengaruh adalah persamaan kepentingan, baik yang bersifat klientelistik maupun programatik," ujar Pangi.

Menurutnya, masyarakat Sumatera Barat cenderung lebih rasional dalam menentukan pilihan politik karena didukung tingkat pendidikan, pendapatan, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang relatif lebih tinggi. Sebaliknya, pemilih di NTT lebih mempertimbangkan kedekatan kepentingan, program, maupun bantuan yang diberikan kandidat.

Figur Kandidat Bukan Penentu Utama

Salah satu temuan yang paling menarik dalam disertasi tersebut adalah bahwa personalisasi kandidat atau faktor figur tidak berpengaruh signifikan terhadap split ticket voting di kedua wilayah penelitian.

Temuan ini berbeda dengan anggapan umum bahwa popularitas atau karisma kandidat menjadi faktor dominan dalam menentukan pilihan politik masyarakat.

Sebaliknya, penelitian menunjukkan semakin kuat kedekatan pemilih dengan partai politik, semakin kecil kemungkinan mereka memisahkan pilihan antara calon legislatif dan calon presiden.

Halaman Selanjutnya
img_title