Ndalem KH Abdul Wahab Hasbullah Jadi Lokasi Musyawarah AHWA Pilih Rais Aam PBNU, Ini Alasannya

Ndalem KH Abdul Wahab. Hasbullah
Sumber :
  • M. Lutfi Hermansyah

Jombang, VIVA Jatim-Kediaman KH Abdul Wahab Hasbullah di kompleks Pondok Pesantren (PP) Bahrul Ulum, Jombang, Jawa Timur, dipilih sebagai tempat musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) untuk memilih Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 NU.

img_title Kecelakaan Maut di Tol Jombang-Mojokerto, 4 Penumpang Hiace Tewas

Ketua Panitia Lokal Muktamar ke-35 NU PP Bahrul Ulum, KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq, mengatakan lokasi tersebut telah ditetapkan dan akan ditata untuk pelaksanaan musyawarah sembilan ulama anggota AHWA.

“(Tempat musyawarah AHWA) di ndalem-nya (kediaman) Mbah Wahab. Kita tetapkan, sudah bisa dipastikan akan kita tata di ndalem-nya Mbah Wahab,” kata Gus Rozaq kepada wartawan, Minggu, 9 Agustus 2026.

img_title Gus Kikin Jadi Ketum PBNU, Janji Tak Lupakan PWNU Jatim

Kediaman KH Abdul Wahab Hasbullah berada di Dusun Tambakberas, Desa Tambakrejo, Kecamatan/Kabupaten Jombang. Rumah tersebut berada persis di sebelah Masjid Jami PP Bahrul Ulum. Pada bagian atas bangunan terdapat relief berlambang Nahdlatul Ulama.

Gus Rozaq mengatakan, pemilihan rumah KH Abdul Wahab sebagai lokasi musyawarah AHWA memiliki pertimbangan historis. Rumah tersebut menjadi salah satu tempat yang berkaitan dengan perjuangan KH Abdul Wahab dalam mendirikan dan membesarkan NU.

img_title Gus Fiqi soal Polemik PAN Vs Ansor Jatim: Ingat, Jaga Sejarah dan Transparansi

Menurut dia, suasana di kediaman tersebut diharapkan dapat mengingatkan para masyayikh yang mengikuti musyawarah AHWA terhadap perjuangan para pendiri NU pada masa lalu.

Ia mencontohkan kisah keluarga KH Abdul Wahab ketika sang kiai bersiap menghadiri muktamar NU. Menurut cerita yang disampaikan putra-putri KH Abdul Wahab, kiai tersebut bahkan tidak tidur semalaman dan terus berwirid hingga subuh sebelum mempersiapkan keperluan muktamar.

“Menyiapkan keperluannya muktamar ditata sendiri, koper-kopernya juga disiapkan sendiri. Jadi ini untuk, ya istilahnya, penyegaran biar masayikh-masayikh itu tahu bagaimana perjuangan Kiai Wahab dulu,” ujar Gus Rozaq.

Ia membandingkan kondisi tersebut dengan perjalanan peserta muktamar pada masa sekarang yang relatif lebih mudah. Pada masa KH Abdul Wahab, kata dia, perjalanan menuju muktamar dilakukan dengan sarana transportasi yang jauh lebih sederhana.

“Kalau sekarang kan enak, ke mana-mana mobilnya ber-AC. Kalau dulu Mbah Wahab enggak, naik kereta, kadang sepeda motoran,” katanya.

Halaman Selanjutnya
img_title