Untag Surabaya Beri Keringanan Kuliah bagi 58 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT
- Rachmad Fahrizal Tito
Surabaya, VIVA Jatim-Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya memberikan relaksasi akademik bagi puluhan mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak gempa bumi.
Rektor Untag Surabaya Dr. Harjo Seputro mengatakan terdapat 108 mahasiswa asal NTT yang terdata di kampus. Dari jumlah tersebut, 58 mahasiswa terdampak langsung dan membutuhkan kebijakan khusus.
“Dari pendataan kami sampai dengan jam 12 tadi, ada 108 mahasiswa yang berasal dari NTT. Dari 108 itu, ada 58 yang secara langsung terdampak, kemudian perlu kita beri relaksasi untuk administrasi akademik,” kata Harjo, Rabu, 19 Agustus 2026.
Relaksasi diberikan dalam bentuk penundaan pembayaran biaya Kartu Rencana Studi (KRS) hingga akhir Oktober. Mahasiswa terdampak tetap diperbolehkan melakukan KRS meski belum menyelesaikan pembayaran.
“Relaksasinya adalah kita lakukan penundaan pembayaran sampai dengan akhir Oktober. Jadi tanpa bayar pun mereka masih bisa melakukan KRS,” ujarnya.
Selain administrasi, Untag Surabaya memberikan fleksibilitas pembelajaran. Sebanyak 36 mahasiswa membutuhkan penyesuaian proses belajar dan akan difasilitasi mengikuti perkuliahan secara daring melalui Learning Management System (LMS).
Kebijakan serupa diberikan kepada mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir. Kampus memberikan fleksibilitas waktu dan mekanisme bimbingan karena kondisi bencana dapat memengaruhi konsentrasi mahasiswa.
“Awalnya mereka fokus mengerjakan tugas. Kondisi seperti ini tentu fokusnya bisa buyar. Ada waktu yang memang harus dicapai untuk menyelesaikan. Karena itu ada fleksibilitas untuk proses pembimbingan,” jelas Harjo.
Dari 58 mahasiswa terdampak, sebanyak 14 orang saat ini berada di Surabaya dalam kondisi aman. Namun, karena keluarga mereka berada di wilayah terdampak, kampus tetap menyiapkan pendampingan psikologis dan psikososial.
Untag Surabaya juga memberikan waktu bagi mahasiswa yang masih berada di NTT untuk memulihkan kondisi dan kembali ke Surabaya. Harjo mengatakan dua pekan pertama perkuliahan pada awal September akan dilaksanakan secara daring.
“Dua minggu pertama kita masih online, sehingga masih ada jeda waktu untuk mereka bisa kembali ke sini, pulih dan kembali ke sini,” katanya.
Kampus juga membantu mahasiswa berkomunikasi dengan keluarga yang berada di wilayah terdampak.
Dekan Fakultas Psikologi Untag Surabaya Dr. Diah Sofiah mengatakan pihaknya menyiapkan tim relawan untuk memberikan Psychological First Aid (PFA) kepada masyarakat terdampak. Tim akan melibatkan dosen dan mahasiswa Fakultas Psikologi dengan pendekatan look, listen, and link.