Mengenal KH Miftachul Akhyar, Rais Aam PBNU Terpilih di Muktamar NU ke-35
- YouTube
Surabaya, VIVA Jatim-KH Miftachul Akhyar bukan hanya sebagai figur struktur dalam tubuh NU. Pada sisi yang lain, dia adalah representator kepemimpinan spiritual yang berangkat dari tradisi NU serta mempunyai akar yang kuat dalam tradisi pesantren.
Seseorang kiai yang telah malang melintang memegang berbagai jabatan mentereng di NU, terpilihnya KH Miftachul Akhyar dalam keanggotaan Ahlul Halli Wal Aqdi dalam usulan di muktamar NU ke-35 di Tambakberas, Jombang membawa pesan spiritual sebagai sosok sentral di dalamnya.
KH Miftachul Akhyar tidak hanya sebagai figur struktur dalam tubuh NU. Pada sisi yang lain, dia adalah representator dari kepemimpinan spiritual yang berangkat dari tradisi NU serta mempunyai akar yang kuat dalam tradisi pesantren.
Lahir di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan Surabaya pada 30 Juni 1953, KH Miftachul Akhyar tumbuh dalam lingkungan yang sangat kental dengan nuansa agama Islam yang berbasis pada khazanah keilmuan yang tinggi.
Dia adalah putra kesembilan dari 13 bersaudara, lahir dari pasangan KH Abdul Ghani dan Nyai Hj. Siti Ashfiyah. Sang ayah, KH Abdul Ghani, merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah dan dikenal sebagai salah satu kiai yang memiliki ikatan keilmuan yang erat dengan tokoh-tokoh besar NU, salah satunya adalah KH M. Usman al-Ishaqi Sawahpulo, Surabaya.
Dibesarkan di bawah asuhan langsung seorang ayah yang alim dan wara', pondasi keilmuan KH Miftachul Akhyar terbentuk dengan sangat kokoh.
Dia menyerap dasar-dasar ilmu dasar agama dan akhlak, langsung dari keluarganya. Tidak berhenti di sana, perjalanan spiritual dan intelektual KH Miftachul Akhyar lanjut dari satu pesantren ke pesantren lain untuk menyambung sanad keilmuannya kepada para kyai besar di tanah Jawa.
Dia tercatat pernah mematangkan penguasaan ilmu agama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas dan Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso di Jombang. Keduanya adalah pesantren yang berada di sebuah kabupaten yang secara historis dikenal sebagai daerah yang membidani lahirnya Nahdlatul Ulama.
Tidak puas sampai di situ, Kiai Miftach kemudian melanjutkan rihlah ilmiahnya ke Pondok Pesantren Sidogiri di Pasuruan, pesantren salaf tertua yang masyhur dengan ketatnya pendidikan dan insitusi yang melahirkan santri-santri yang militan dalam penguasaan ilmu fiqih.