551 Santri Keracunan MBG di Sidoarjo, Khofifah Soroti Waktu Penyajian Makanan
- Ahaddiini HM
Sidoarjo, VIVA Jatim-Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyoroti aspek waktu pengiriman dan penyajian makanan sebagai salah satu faktor penting dalam kasus dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan santri Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.
Dalam tinjauannya di RS Islam Siti Hajar, Kamis 3 September 2026, Khofifah menyatakan terdapat dugaan keterlambatan dalam menyajikan makanan kepada para santri.
Berdasarkan evaluasi terhadap 18 lembaga penerima makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang sama, 17 lembaga dinyatakan tidak mengalami masalah. Satu lembaga lainnya, yakni Ponpes Mambaul Hikam, mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan.
Ia menyampaikan perbedaan signifikan ditemukan pada jeda waktu. Pada lembaga yang aman, makanan selesai dimasak pukul 05.00 WIB, dikirim pukul 07.00 WIB, dan dikonsumsi pukul 10.00 WIB. Sementara di lokasi terdampak, makanan baru dikirim pukul 11.00 WIB dan dikonsumsi antara pukul 12.30 hingga 13.00 WIB.
"Yang perlu kita evaluasi adalah time delivery dan time serving-nya. Jangan sampai makanan terlalu lama berada pada suhu ruang sebelum dikonsumsi," kata Khofifah.
Menu dan proses memasak di semua lembaga disebut sama. Oleh karena itu, keterlambatan distribusi menjadi fokus utama penyelidikan.
Data per 2 September 2026 mencatat 551 orang terdampak. Di RS Siti Hajar, 24 dari 27 pasien telah dipulangkan dan dalam kondisi membaik. Tidak ada pasien dalam kondisi kritis.
Khofifah meminta seluruh penyelenggara MBG memperketat pengawasan mulai proses memasak hingga penyajian agar kejadian serupa tidak terulang.
"Yang paling penting adalah memastikan waktu pengiriman dan penyajian benar-benar sesuai dengan ketentuan. Ini harus menjadi evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi," pungkasnya.