Kapas Tinggi

Daun Kapas atau Kapas Tinggi.
Sumber :
  • Nur Faishal

SI KECIL demam tinggi. Sepulang dari kedai, di perjalanan ia mengigau terus, menyebut apa pun yang ada di ingatannya. Sampai di rumah, ia tak langsung tidur. Ia terus meracau apa saja. Menyebut nama Coko kucing kesayangannya. Kadang kala memanggil nama abangnya. 

Pun saat matanya terpejam ketika tertidur. Mulutnya terus berbicara. Semula saya dan istri tertawa kecil melihat ekspresi dan racauan lucunya. “Itu seperti aku ketika kecil dulu. Ketika sakit biasanya berhalusinasi dan ngomong ngelantur,” kata istri.

Tapi lama-lama kami panik. Jangan-jangan karena demam ekstrem. Apalagi tangannya bergetar serupa menggigil. Saya buka web khusus tentang kesehatan dengan kata kunci ‘Anak Mengigau saat Demam’. Benar saja, semua web sepakat menjelaskan bahwa anak mengigau tak keruan saat demam sebagai respons saraf otak untuk melawan suhu badan tinggi yang ekstrem.

Saya pun keluar lagi dan bergegas menuju apotek. Tutup semua. Lalu ke satu-satunya minimarket di kecamatan kami yang buka di atas pukul sepuluh malam. Setidaknya beli alat pendeteksi suhu badan. Juga nihil. Akhirnya saya ke rumah asal. Cari daun yang biasa dipakai orang tua dulu menurunkan demam: Kapas Tinggi.

Di kampung saya, itu nama daunnya. Saya cari tahu di Google, tidak ketemu. Yang ada Kapasan dan daun Kapas. Nama terakhir paling mendekati, dilihat dari bentuk daunnya yang lebar, berurat kasar, dan berbentuk hati. Nama latin daun Kapas ialah Gossypium sp. Dalam pengobatan tradisional, daun itu memang dikenal sebagai tanaman herbal. Manfaatnya untuk menurunkan demam, meredakan nyeri, mengatasi luka ringan, dan manfaat lainnya.

Ternyata daun ajaib itu sudah langka. Tak ada warga yang menanam lagi di pekarangan rumah. Mungkin sejak apotek bertebaran. Bila sakit beli saja. Tetangga memberi tahu Kapas Tinggi sekarang adanya di pinggir sungai. Itu ke barat dari rumah saya, melewati beberapa petak kebun, rerumpun pohon bambu, dan kuburan yang gelap gulita.

Saya minta adik yang tengah nongkrong bersama teman-temannya di teras agar memetikkan daun penurun demam itu. Takut. Saya minta tolong temannya untuk menemani. Masih takut. Akhirnya kami berlima menuju tempat Kapas Tinggi tumbuh. Dibantu cahaya senter dan lampu HP, kami menyusuri jalan membelah kebun yang gelap. Agak gaduh karena kami semua takut kegelapan. Juga khawatir ada pocong melintas atau kuntilanak menggelantung di dahan.

Kami seperti masuk ke lorong waktu, kembali ke era kerajaan. Seperti di film-film kolosal yang menceritakan seorang pendekar memasuki hutan lebat, mendaki gunung, dan menghadapi segala macam rintangan demi untuk memetik bunga atau tumbuhan ajaib yang diyakini bisa menyembuhkan orang tercintanya dari sakit yang parah.

Saya langsung pulang setelah mendapatkan beberapa lembar daun Kapas Tinggi. Dua lembar lalu dimasukkan ke dalam air, disobek-sobek, diremas-remas, hingga airnya berubah warna keruh kehijauan. Kemudian leburan daun yang sudah becek itu dikurapkan ke dahi si kecil. Rambutnya dibilas dengan air Kapas Tinggi itu.

Alhamdulillah. Tak sampai satu jam, si kecil tertidur pulas. Suhu badannya terus turun, tempo racauannya juga kian pelan. Paginya ketika bangun, ia sudah bisa duduk sendiri, lalu berjalan pelan menghampiri ibunya yang tengah mengurus bunga di halaman. Seperti biasa, si kecil kemudian minta makan menu kesukaannya: nasi putih sayur kelor.

Begitulah cara kebanyakan dari kami memberesi gangguan kesehatan ringan di desa. Memanfaatkan apa yang ada di alam untuk mengusir penyakit. Pun juga soal menjaga kebugaran tubuh agar imunitas tubuh tumbuh dengan sendirinya sehingga segala macam penyakit yang menghampiri terpental saat mampir.  

Cara sama kami lakukan untuk memenuhi gizi anak. Sebelum sekolah sudah diasupi makanan alamiah noninstan dan kimia. Ikan laut plus sayur kelor jadi menu harian. Sejak dulu sampai sekarang begitu. Dengan begitu tidak ada cerita anak-anak kelaparan sebelum berangkat sekolah.

Lalu tiba-tiba ada program MBG. Katanya agar anak-anak Indonesia bergizi.

Hiks.