Kajian Kitab di Komunitas Kijang Kotak
- Nur Faishal/Viva Jatim
Sumenep, VIVA Jatim – Sabtu, 12 Juli 2025, malam. Enam mobil Toyota Kijang tua berjalan beriringan di jalan desa yang sepi di Pajagungan, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Laju mereka begitu pelan karena permukaan jalan bergelombang. Gronjal-gronjal.
Kerikil di mana-mana.Sudah begitu, lebar jalan amat sempit. Hanya muat untuk satu mobil saja. Jalan berbelok-belok membelah petak-petak kebun kelapa yang luas. Hanya satu-dua rumah yang dilewati, sehingga yang tampak kanan-kiri nyaris gelap. Pohon-pohon kelapa yang menjuntai tinggi terlihat seperti tubuh raksasa hitam.
Sesampai di lembah, sawah memanjang terhampar, seperti sungai yang membelah luasnya kebun kelapa. Di kanan-kiri, barisan padi muda hanya tampak samar-samar karena terkuas cahaya tipis bulan. Beruntung, cahaya lampu utama semua mobil yang beriringan terang betul. Tak ada yang bermasalah. Sehingga mereka selamat dari tergelincir dan nyemplung ke sawah berlumpur.
Iringan mobil tua itu menuju sebuah rumah di ujung sawah. Itu adalah rumah salah satu anggota Toyota Kijang Super Community Indonesia (TKSCI) Chapter Sumenep, Zawawi. Sesampai di sana, halaman sudah penuh dengan mobil Kijang. Semuanya Toyota Kijang Super dari berbagai varian.
Iring-iringan Kijang Kotak di kampung kecil di Sumenep.
- Nur Faishal/Viva Jatim
TKSCI adalah satu dari beberapa komunitas Kijang Kotak yang ada di Indonesia. TKSCI merupakan salah satu yang terkenal di kalangan pecinta Kijang karena jaringannya yang luas. Strukturnya dari pusat hingga kabupaten/kota. Di Sumenep, jumlah anggotanya 30 lebih. Mereka bertemu rutin sebulan sekali di rumah anggota yang diatur secara bergiliran. Malam itu giliran Zawawi.
"Di luar pertemuan rutin, kami juga sering berkumpul di luar, kadang di basecamp atau di kota. Kadang juga menghadiri acara chapter daerah lain, atau komunitas Kijang lainnya di luar TKSCI. Intinya kami merawat silaturrahim sesama pecinta mobil Kijang, terutama Kijang Kotak," kata Ketua TKSCI Sumenep, Mahabasi atau Abbas.
Pertemuan rutin dihadiri semua anggota dan keluarga mereka. Karena itu, teras rumah shahibul hajat begitu ramai karena sahut-sahutan celoteh kaum ibu dan anak-anak mereka. Setelah semua kumpul, acara dibuka dengan pembacaan surat Alfatihah yang dipimpin anggota yang juga kiai kampung setempat, Kiai Muhaimin.