Spirit Sakera di Hari Kemerdekaan

Peserta karnaval berkostum Sakera di Kotanyar, Problinggo.
Sumber :
  • Fadol untuk VIVA Jatim

Kostumnya juga sama. Kaus dalam merah putih, baju dan celana longgarnya hitam, dan berudeng batik merah. Bedanya, bagian wajah mereka dipoles lebih sangar. Kumis tebal dan panjang dihiaskan dibibir peserta. Sebagian wajah dipoles hitam. Ada pula yang mengenakan rambut palsu panjang.

img_title Jualan Jajan Serba Rp5.000, Cara Ibu-ibu PKK Dongkrak Ekonomi Desa Tlogorejo Lamongan

Di bagian dada peserta menggantung sebuah jimat segi empat berwarna hitam. Tangan mereka menenteng celurit. Kadang dipanggul di pundak, kadang disabetkan sambil menari serempak, mengikuti irama musik dengan nyanyian berbahasa Madura. Kelihatan lebih garang.

Lalu, siapa sebenarnya Sakera? Tidak ada dokumen tertulis yang betul-betul bisa dijadikan rujukan tentang sosoknya. Cerita Sakera lebih banyak menular lewat mulut ke mulut, hingga populer dan melegenda tak hanya di tengah masyarakat Madura dan Tapal Kuda, yang nenek moyangnya mayoritas berasal dari Pulau Madura, tapi juga ke se antero Nusantara.

img_title Mengenal ORF Porong Pertagas OEJA, Pengendali Distribusi Gas dari Pagerungan ke Konsumen di Jatim

Berdasarkan pitutur rakyat yang beredar, nama asli Sakera adalah Sadiman, sosok berdarah Madura yang tinggal dan hidup di Pasuruan pada tahun 1800-an. Saat dewasa, ia bekerja sebagai mandor di perkebunan tebu milik Kancil Mas Bangil milik kolonial Belanda. 

Sebagai pemimpin, ia dikenal sosok pemberani, ahli bela diri, adil, dan peduli terhadap kesejahteraan para pekerja perkebunan tebu. Satu waktu, perusahaan membutuhkan lahan lebih luas untuk perkebunan tebunya. Konon, pihak Belanda membujuk Carik Rembang untuk membeli tanah milik rakyat seluas-luasnya dengan harga murah. Tentu saja dengan janji akan diberikan imbalan.

img_title BRI Perkuat Ekonomi Lokal Desa Doudo Gresik lewat Semarak Merah Putih

Carik Rembang kala itu setuju. Kemudian dipilihlah cara-cara kekerasan untuk merebut tanah rakyat yang akan digunakan untuk perluasan perkebunan tebu milik Belanda tersebut. Mengetahui itu, Sakera melancarkan perlawanan. Sejak itu ia diburu oleh polisi Belanda, karena telah mengacaukan rencana perluasan area perkebunan tebu.

Sakera akhirnya berhasil ditangkap setelah dijebak. Ia kemudian dihukum gantung di Bangil. Makamnya di Desa Bekacak, Bangil, Pasuruan, hingga kini kerap diziarahi orang. Patung Sakera juga didirikan di sana, untuk mengenang jasanya memperjuangkan rakyat melawan Belanda.

Sayang, karena tidak ada dokumentasi tertulis, ragam versi mewarnai cerita hidup Sakera. Termasuk soal kehidupannya. Cerita-cerita Sakera yang ditampilkan di pentas kesenian juga tak didasarkan pada hasil penelitian ilmiah yang memadai. 

Halaman Selanjutnya
img_title