Langkanya Maling Buku
- Dokumen pribadi
Sumenep, VIVA Jatim – Dari duit simpanan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit setiap hari, Imama akhirnya bisa membeli lemari buku kecil. Seratusan buku berbagai judul lalu ia masukkan. Ada juga beberapa majalah keislaman dan umum.
Imama adalah pengelola kedai di sebuah kecamatan di timur Kabupaten Sumenep, Madura. Kedai itu berdiri di atas lahan sewa sekira tiga kali lapangan badminton. Cukup luas untuk menata tempat memesan makanan-minuman, gazebo dan kursi untuk pengunjung, kamar mandi, musala kecil, dapur, dan tempat parkir.
Di bagian selatan, ada ruangan berdempet dengan dapur. Disekat dinding batu bata. Bangunan itu tersambung dengan atap dari asbes, peneduh pengunjung yang ingin berlesehan.
Pengelola pertama memfungsikan ruangan itu sebagai ruang rapat. Atau pengunjung yang ingin melakukan pertemuan tanpa terganggu pengunjung lain. Ketika Imama mengelola, ruangan itu dijadikan gudang karena minim fentilasi.
Di bagian luar, gambar Cak Nun, Gus Dur, D Zawawi Imron, dan Sujiwo Tejo, terlukis di seluruh permukaan dinding. Menghadap ke jalan raya sebagai pemandangan seni buat pengunjung yang memilih berlesehan. Nah, di samping gambar empat tokoh besar itulah lemari buku itu ditaruh oleh Imama.
Ide menaruh buku sebenarnya bukan dari Imama. Tapi muncul dari kerabatnya yang sehari-hari nongkrong dan membantu urusan kedai. Kerabatnya itu lama berkuliah di Kediri. Karena kedai itu berada di kecamatan yang banyak madrasah, sekolah, dan kampus, diharapkan banyak pelajar, santri, atau mahasiswa yang membaca.
Imama setuju dengan ide itu. Dia berharap, selain keuntungan duit, kedainya juga bisa jadi pendorong bagi para penuntut dan pecinta ilmu untuk mengasah pengetahuan mereka. Dengan buku-buku itu mereka diharapkan terpacu untuk membaca dan menggali pengetahuan. Biar ada manfaat dan nilai pahalanya.
Sebagai pemantik, dibuatlah bedah buku Tirakat Jalan Raya; Jalan Menuju Bahagia karya Kiai M Faizi. Penulisnya dihadirkan, komunitas-komunitas diundang, terutama komunitas yang beranggotakan kaum pelajar. Tak lupa, lemari berisi buku itu dipamerkan ke peserta bedah buku.
Acaranya berjalan sukses. Tapi tidak dengan efeknya. Lemari buku itu jarang disentuh pengunjung. Kalau pun ada hanya dilihat-lihat saja. Memang ada pengunjung yang membaca, tapi bisa dihitung jari dan itu pun hanya sebentar. Mereka lebih disibukkan melihat HP, main game online, atau mengobrol.
Awalnya, lemari buku itu dimasukkan ke dalam gudang ketika kedai sudah tutup. Khawatir hilang. Lama-lama capek menyeret lemari keluar-masuk, maka dibiarkan di luar terus. Kadang dibiarkan tidak terkunci berhari-hari.
"Siapa yang tergiur mencuri buku," kata Imama.
Sebulan, dua bulan, hingga berbulan-bulan tetap begitu. Tak ada pengunjung yang membaca buku di lemari kaca itu. Pun tak ada yang mencuri buku-buku itu meski lemari kerap tak dikunci.
"Bawa pulang saja lemari dan bukunya. Tak ada yang membaca juga," ujar Imama.
Imama mungkin kecewa. Tapi dia juga lupa ini bukan tahun 1990-an ke bawah. Masa itu, buku adalah barang langka dan harganya sulit dijangkau. Siswa zaman itu tahunya hanya buku mata pelajaran sekolah.
Tapi justru karena barang ekslusif, buku saat itu banyak diincar kalangan yang haus pengetahuan, terutama di kampus-kampus. Mereka ingin mengeruk dalamnya ilmu pengetahuan dari ceruk yang paling dalam dan luasnya yang tak terbatas. Dari buku bisa mereka dapatkan.
Dorongan memburu buku saat itu bukan hanya karena haus akan pengetahuan. Bukan sekadar dipengaruhi tradisi membaca buku yang kuat. Tapi juga sebagai bagian dari gaya hidup, terutama di kalangan mahasiswa di kampus-kampus. Juga di kalangan santri di pesantren-pesantren.
Menenteng buku segepok tebal-tebal rasanya seperti yang paling aku. Biar pun tidak dibaca, paling tidak terlihat keren bila berjalan di depan mahasiswi yang duduk bergerombol. Di lingkungan pesantren, santri merasa paling rajin dan menuju status alim bila ke sana ke mari tangannya mengapit kitab.
Karena itu, dulu banyak kasus perpustakaan kehilangan buku. Bisa dicuri atau dipinjam tak kembali-kembali. Banyak juga cerita pemilik buku kehilangan banyak koleksi bukunya karena dipinjam teman gak dibalek-balekno. Saking lamanya sampai lupa siapa yang meminjam.
Saking biasanya pinjam-meminjam buku tapi tak kembali, sampai-sampai anekdot Gus Dur, "hanya orang bodoh yang mau meminjamkan bukunya, dan hanya orang gila yang mau mengembalikan buku yang sudah dia pinjam", ini terkenal di lingkungan kampus dan aktivis. Jadi pembenar bahwa mengambil atau meminjam buku tanpa dikembalikan adalah boleh.
Tapi itu dulu. Puluhan tahun lalu. Ketika kemauan membaca di lingkungan para penuntut ilmu begitu tinggi, tapi fasilitas dan daya membeli buku begitu rendah.
Bila sekarang buku-buku di lemari kaca kedai Imama tak ada yang hilang karena dicuri, bisa jadi karena daya pelajar dan mahasiswa membeli buku sudah meningkat. Atau pula karena buku sekarang mudah didapat secara digital.
Bisa jadi di kedai Imama, pengunjung fokus lihat HP karena membaca buku PDF. Bukan asyik live TikTok, bukan seru-seruan main game online, bukan keasyikan menelusuri informasi-informasi peristiwa dari netizen yang belum tentu benar kenyataannya.
Tak perlu curiga tingkat membaca masyarakat menurun, apalagi di Jawa Timur. Toh Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyampaikan saat Hari Literasi Internasional pada 8 September 2025 lalu bahwa nilai tingkat gemar membaca di Jawa Timur pada tahun 2024 di angka 77,15.
"Angka ini masuk dalam kategori tinggi [secara nasional]," tulis Khofifah dalam keterangan tertulisnya.
Benar atau tidak wallahu a'lam.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.
- Humas Pemprov Jatim