Melestarikan Udeng Pacul Gowang ala Komunitas Kabut Malam
- Ahaddiini HM/VIVA Jatim
Sidoarjo, VIVA Jatim – Udeng Pacul Gowang khas Kabupaten Sidoarjo mungkin sudah banyak yang tahu. Mempopulerkan namanya mudah sekali, apalagi di era media sosial seperti sekarang. Yang sulit adalah melestarikannya.
Agar tetap lestari, diperlukan peran semua pihak secara berkelanjutan. Nah, komunitas Kabut Malam salah satu yang mengambil peran pelestarian itu. Caranya salah satunya dengan menggelar workshop soal udeng Pacul Gowang.
Workshop itu digelar di Sanggar Belajar Lumbung Sekar Pluralisme di Desa Banjarkemantren, Kecamatan Buduran, pada Kamis, 11 September 2025, malam. Kegiatan tersebut juga sekaligus untuk menyambut Festival Munali Patah.
"[Munali Patah] seorang tokoh budaya dari daerah sini Desa Banjarkemantren yang telah wafat dengan tujuan merawat spiritnya baik dalam berkarya, berkesenian dan berkebudayaan dalam kehidupan sehari-hari," kata Koordinator Pelatihan dan Pendidikan Komunitas Kabut Malam, Achmad Rizal, kepada VIVA Jatim.
Workshop diikuti oleh puluhan pemuda dari berbagai kalangan, mulai dari komunitas, mahasiswa, dosen, dan warga sekitar. "[Workshop] difasilitasi oleh Kampung Lali Gadget, Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Masyarakat, Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian Masyarakat BIMA, serta Universitas Muhammadiyah Sidoarjo," terang Rizal.
Udeng Pacul Gowang dipilih sebagai fokus workshop bukan tanpa alasan. "Ini bagian dari sakralitas budaya, sisi pembelajaran melalui pengalaman langsung sebagai penghayatan dan penghargaan bahwa berkarya untuk kehidupan itu sama langgengnya dengan kehidupan itu sendiri," ungkap Rizal.
Dalam pembuatan udeng tersebut, kain yang dipilih bermotif khas, yakni batik motif kembang tebu dan beras kutah dengan bahan penunjang lainnya seperti spon, kawat, dan kasa hitam.
Motif kembang tebu, papar Rizal, adalah simbol kesuburan dan kelestarian hidup atau sebagai representasi nilai-nilai pertanian dan produksi secara umum. Sedangkan motif beras kutah melambangkan aspirasi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih makmur dan keberkahan dalam berbagai aspek kehidupan.
Udeng Pacul Gowang terdiri dari beberapa bagian. Masing-masing memiliki makna simbolik. "Udeng Pacul Gowang sendiri mempunyai makna sebagai cangkul yang rusak, melambangkan daya kerja keras," tandas Rizal.
Ada beberapa bagian dalam rangkaian udeng ini. Bagian cungkup berarti dinamika kehidupan. Bagian paron kekep pangupo jiwo bermakna harus berbagi rejeki. Iket jagat tali wangsul dimaknai diikat takdir Tuhan, pasti kembali.