Melestarikan Udeng Pacul Gowang ala Komunitas Kabut Malam
- Ahaddiini HM/VIVA Jatim
Sedangkan Wiron sisip nunggak semi artinya cita-cita manusia untuk tumbuh dan bersemi. "Banyu mili yang berarti manusia berguna senantiasa menghidupi," jelasnya.
Rizal memaparkan, ada beberapa tahapan dalam proses pembuatannya. Pertama adalah menyiapkan kerangka (lakaran), merangkai satu per satu lakaran pada alat ukur lingkar kepala yang terbuat dari kayu (kerbut).
"Ikatan ditempel menggunakan lem tembak, setelah itu pemasangan cungkup lalu di lem. Selanjutnya di penutup bagian belakang leher dipasang paron kekep pangupo jowo, kemudian direkatkan iket jagat tali wangsul yang direkatkan melingkar sampai depan," kata Rizal.
"Kemudian di pasang wiron sisip nunggak semi dan iket jagat tali wangsul ditempel sampai belakang dan ditali simpul. Yang terakhir adalah memasang banyu mili di bagian depan dan selesai," imbuhnya.
Rizal berharap, dengan digelarnya workshop udeng pacul gowang ini masyarakat dapat menghargai dan melestarikan buah karya dari leluhur sebagai wujud merawat spirit tokoh Munali Patah serta semakin banyak generasi yang tumbuh dengan kesadaran budaya dan mencintai budaya lokalnya.
Pembuatan udeng Pacul Gawang di Komunitas Kabut Malam.
- Ahaddiini HM/VIVA Jatim
Salah satu peserta workshop, Wahyu Eko Yulianto, mengungkapkan kesan gembiranya mengikuti workshop udeng Pacul Gowang. Baginya, hal ini merupakan ilmu yang patut untuk disampaikan dan dilestarikan.
"Workshop udeng pacul gowang ini asyik dan menyenangkan, karena bisa berkarya dengan perasaan gembira dan dalam suasana kebersamaan. Materi yang disampaikan mudah dipahami dan sangat enjoy jadi ilmu baru. Kalau begini makin semangat ikut melestarikan budaya bangsa asli Desa Banjarkemantren lewat karya sendiri," katanya.