Menata Ulang Arah UINSA: Kampus Berkelas Dunia, Mandiri dan Berdampak
- Dokumen Prof. Husniyatus Salamah Zainiyati
Surabaya, VIVA Jatim – Di tengah perubahan besar dunia pendidikan tinggi, muncul satu pertanyaan mendasar: siapa yang mampu menjaga jati diri kampus, sekaligus membawanya melangkah ke masa depan yang semakin kompleks?
Bagi banyak kolega akademik di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA), Prof. Dr. Hj. Husniyatus Salamah Zainiyati, M.Ag bukan sekadar guru besar pendidikan Islam. Ia adalah representasi dari akademisi yang menempatkan ilmu sebagai kekuatan transformasi—tidak berhenti pada ruang kelas, tetapi bergerak hingga menjangkau realitas sosial yang lebih luas.
Sejak mengabdikan diri di UINSA, Prof. Husniyatus—yang akrab disapa Prof. Titik—menunjukkan konsistensi dalam mengembangkan pendidikan Islam yang tidak hanya normatif, tetapi juga adaptif terhadap perubahan zaman. Baginya, pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan upaya membangun peradaban.
Jejak kepemimpinannya tidak lahir dari ruang administratif semata. Pengalaman panjang sebagai Ketua Jurusan, Wakil Dekan, hingga memimpin berbagai forum strategis seperti Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur, memperlihatkan kapasitasnya dalam membaca sekaligus mengelola kompleksitas kelembagaan.
Namun, jika ditarik lebih dalam, fondasi kepemimpinannya justru terletak pada cara pandangnya terhadap ilmu. Dalam berbagai karya akademiknya, ia konsisten mendorong integrasi keilmuan—sebuah upaya untuk menjembatani dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum melalui pendekatan multidisipliner.
Pendekatan ini bukan sekadar gagasan teoritis. Ia menjadi landasan dalam melihat arah transformasi UINSA ke depan.
Dari Kepatuhan Menuju Dampak Nyata
Dalam lanskap pendidikan tinggi hari ini, Prof. Titik melihat adanya paradoks yang kerap luput dari perhatian. Banyak perguruan tinggi terjebak dalam orientasi kepatuhan administratif—memenuhi borang, indikator formal, dan prosedur yang kaku.
Pendekatan ini, menurutnya, memang penting. Namun dalam jangka panjang, justru berisiko menciptakan stagnasi.
Ia menawarkan sebuah pergeseran paradigma: dari input dan proses menuju output dan dampak nyata. Kampus tidak lagi cukup dinilai dari kelengkapan dokumen, tetapi dari kontribusinya terhadap masyarakat, bangsa, dan dunia.
Gagasan ini sejalan dengan visinya tentang “Arsitektur Transformasi UINSA 2026–2030”, yang menempatkan kampus sebagai institusi yang tidak hanya unggul dalam riset internasional, tetapi juga mandiri dan berdampak.