Warga Sidoarjo Sindir Koruptor Lewat Karnaval Budaya
- Ahaddiini HM/VIVA Jatim
Sidoarjo, VIVA Jatim – Menutup akhir Agustus 2025, Dusun Jambe Rukun Warga 02 Desa Banjarkemantren Kecamatan Buduran Kabupaten Sidoarjo mengungkapkan kritik sosial terhadap pemerintahan dalam sebuah karnaval bertemakan budaya korupsi.
Koordinator Pemuda Dusun Jambe RW 02 Desa Banjarkemantren, Firman Satriyo Widodo mengatakan karnaval ini adalah bagian dari aksi solidaritas dukungan perubahan kebijakan kepada pemerintah agar lebih baik lagi.
"Ini bagian solidaritas juga karena tema tersebut masih relate dengan kondisi nasional. Sampai kegiatan karnaval ini di gelar kita masih memantau lewat media sosial bahwa pembakaran kantor polisi di beberapa daerah juga gedung - gedung Dewan Perwakilan Rakyat di lakukan oleh massa aksi, tentu sangat banyak perspektif yang berseliweran di layar gadget kita," ucapnya kepada VIVA Jatim, Minggu 31 Agustus 2025.
Ia melanjutkan, sebagai pemuda dan rakyat mencoba menyambung benang merah peristiwa bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat.
"Jangan sekali-kali membuat rakyat marah dan menyulut amarah, ya begini jadinya. Sebenarnya bukan hanya kondisi nasional saja, hal demikian juga kita rasakan di lokal desa," terangnya.
Firman menegaskan, konsep budaya korupsi di karnaval ini juga sebagai pemahaman kritis bagi kaum pemuda juga warga desa.
"Tidak hanya sekedar karnaval, tema ini strategis ditujukan bagi kaum muda di desa untuk tetap kritis, eksis dan berkreatifitas secara jernih," tegasnya.
Baginya, karnaval juga sebagai wadah kontribusi untuk masyarakat sekitar. Hal ini dibuktikan dengan upaya membagikan saweran untuk warga.
"Umumnya karnaval, peserta disawer warga, namun bagi kaum muda Jambe kebalikannya, kita yang menyawer warga baik mulai dari anak-anak sampai ibu-ibu," tandasnya.
"Ini menggambarkan bahwa kondisi realita saat ini adalah, meminjam istilah Mohhamad Hatta dalam bukunya Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun, masyarakat masih kekurangan kemakmuran. Jadi kita lakukan ini. Selain itu, ini menggambarkan bahwa sudah seharusnya uang rakyat kembali ke rakyat," imbuhnya.
Firman berharap kritikan membangun yang diwujudkan dalam karnaval ini dapat dipahami khalayak terutama pemerintah.
"Karnaval ini bukan sekedar uforia tanpa isi. Semoga dapat dipahami makna dari karnaval yang kita lakukan. Dimana pejabat merayakan kemerdekaan dengan anggaran sementara warga merayakan dengan swadaya dan iuran, jelas masih ada ketimpangan. Ini jadi instropeksi kita semua bagaimana kita butuhkan kebijakan baru yang menyejahterakan rakyat," pungkas Firman.