Teknologi Chip Dari China dan Dampaknya bagi Inovasi

Warek II Untag Surabaya, Supangat.
Sumber :
  • Rachmad Fahrizal Tito

Surabaya, VIVA Jatim-Dunia teknologi global tengah menyoroti langkah para insinyur China yang berupaya mengembangkan mesin pembuat chip canggih secara mandiri. Isu ini mencuat di tengah ketatnya akses terhadap teknologi utama pembuatan chip tercanggih dunia, khususnya mesin litografi Extreme Ultraviolet (EUV) yang selama ini menjadi tulang punggung industri semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI).

img_title Rayakan Hari Jadi ke-5, Simplus Berkomitmen Terus Hadirkan Inovasi

Namun di balik hiruk-pikuk geopolitik teknologi tersebut, tersimpan cerita yang lebih mendalam. Keterbatasan akses justru menjadi pemantik lahirnya inovasi baru melalui pemahaman ulang terhadap dasar-dasar rekayasa dan teknologi.

Wakil Rektor II Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Supangat menilai bahwa fenomena ini menunjukkan bagaimana inovasi sering kali lahir bukan dari kenyamanan, melainkan dari keterbatasan.

img_title Sebanyak 618.479 Murid Baru di Jatim Ikuti MPLS Mulai 13 Juli, Dindik Larang Perpeloncoan

“Ketika teknologi inti tidak mudah diakses, para insinyur dipaksa kembali ke akar, memahami prinsip dasar fisika, material, dan sistem kontrol. Dari sinilah justru lahir kemandirian teknologi yang sesungguhnya,” kata Supangat dalam keterangannya, Minggu 4 Januari 2026.

Ia menjelaskan, chip semikonduktor merupakan “otak” hampir seluruh teknologi modern, mulai dari ponsel pintar, pusat data, hingga sistem kecerdasan buatan. Untuk memproduksi chip berteknologi tinggi, dibutuhkan mesin litografi EUV yang bekerja dengan presisi ekstrem, mencetak pola sirkuit lebih kecil dari ukuran virus.

img_title Wakil Rektor III Untag Surabaya Paparkan Strategi Internasionalisasi di WUiDAY 2026 Thailand

“Mesin EUV bukan sekadar mahal, tetapi sangat kompleks. Ia harus bekerja dalam kondisi hampir sempurna—tanpa getaran, suhu stabil, dan presisi luar biasa. Ketergantungan pada satu teknologi seperti ini sebenarnya menjadi titik lemah sistem industri global,” ujarnya.

Supangat menambahkan, dalam dunia rekayasa, ketergantungan pada satu komponen utama membuat ekosistem teknologi menjadi kurang fleksibel. Ketika akses terhadap teknologi tersebut dibatasi, inovasi pun terhambat. Kondisi inilah yang mendorong munculnya pendekatan alternatif.

Menurutnya, upaya membangun mesin pembuat chip dari nol memang bukan perkara mudah. Tantangannya tidak hanya merakit perangkat keras, tetapi juga memahami interaksi kompleks antara cahaya, material, dan sistem presisi tingkat tinggi.

“Proses ini mungkin tidak langsung menghasilkan teknologi siap pakai. Namun nilai terpentingnya adalah transfer pengetahuan. Insinyur tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi pencipta teknologi,” tegasnya.

Halaman Selanjutnya
img_title