Belajar dari Tragedi KMP Tunu, DPR RI Minta Perkuat KPLP dan Zero ODOL

Anggota DPR RI Bambang Haryo Soekartono
Sumber :
  • Istimewa

Data Muatan dan Stabilitas Kapal

img_title Anggota DPR BHS Sebut Pelabuhan Merak Mendesak Butuh Dermaga Tambahan

Menurut Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) Komisi VII DPR RI ini, data muatan truk harus akurat berdasarkan penimbangan di jembatan timbang. Namun, ia menyayangkan bahwa data berat muatan seringkali tidak diberikan kepada operator kapal penyeberangan karena banyak jembatan timbang yang belum aktif atau bahkan tidak difungsikan di terminal penyeberangan.

"Kapal memiliki keterbatasan daya apung untuk menahan berat muatan, terutama truk tronton dan truk besar, apalagi jika muatannya ODOL," jelas BHS.

img_title Komisi 8 DPR Ungkap Sekjen Kemenag Paksa Timsel Masukkan Akh Muzakki dalam 3 Besar Calon Rektor UINSA

Kondisi ini dapat mengakibatkan kehabisan daya apung (displacement kapal) atau bahkan instabilitas negatif akibat beban yang terlalu berat di atas truk, yang dapat menyebabkan kapal terbalik.

"Ini sering terjadi di lintasan Ketapang-Gilimanuk, khususnya pada kapal-kapal yang beroperasi di dermaga LCM yang memang mengangkut muatan berat. Lima kapal sebelumnya juga tenggelam di sekitar dermaga LCM," ungkapnya.

img_title Doa Keselamatan Transportasi oleh DLU dan 999 Anak Yatim

Sebagai anggota Dewan Pakar DPP Gerindra, BHS juga khawatir insiden ini akan mencoreng citra pariwisata Bali jika sarana transportasi pendukung dianggap tidak aman. Ia kembali menegaskan pentingnya Zero ODOL dan fungsionalisasi jembatan timbang di sekitar pelabuhan penyeberangan.

Apresiasi dan Peningkatan Kualitas Penyelamatan

BHS mengapresiasi kinerja KPLP dan Basarnas yang tiba di lokasi kejadian masing-masing dalam waktu kurang dari 20 menit dan beberapa menit setelah KPLP.

"Namun, sangat disayangkan bahwa sebagian besar penumpang justru diselamatkan oleh nelayan. Ini menunjukkan perlunya peningkatan kemampuan sumber daya manusia di KPLP dan Basarnas," tegasnya. 

Ia berharap semua instansi pengamanan dan penyelamatan, termasuk KPLP, Basarnas, Bakamla, dan Polair, dapat bekerja sama secara maksimal untuk menemukan korban-korban kapal.

Pemerintah juga didesak untuk menyiapkan ruang tunggu crisis management center yang menyediakan informasi 24 jam bagi korban dan keluarga, serta ruang medis dan ruang psikologi untuk pendampingan trauma healing.

BHS menutup dengan harapan agar Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) segera melakukan penyidikan dan penyelidikan menyeluruh untuk mencegah terulangnya kecelakaan serupa.

Sebagai informasi, KMP Tunu Pratama Jaya dilaporkan memuat penuh 8 tronton (sebagian bermuatan semen dan barang berat), 3 truk besar, 3 truk sedang, 4 pick-up berisi barang, 4 kendaraan kecil, dan sejumlah sepeda motor.

Halaman Selanjutnya
img_title