Rustini Muhaimin Ajak Ribuan Santri Putri Sukorejo Berani Ambil Peran

Pembina DPP Perempuan Bangsa Rustini Muhaimin Memotivasi Ribuan Santri Putri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.
Sumber :
  • Istimewa

Situbondo, VIVA Jatim-Pembina DPP Perempuan Bangsa Rustini Muhaimin memotivasi ribuan santri putri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, Selasa, 22 September 2026. Dalam kesempatan tersebut, Rustini hadir didampingi Ketua Umum DPP Perempuan Bangsa Nihayatul Wafiroh, Wakil Bupati Situbondo Ulfiah, serta anggota DPRD Jawa Timur Mamlulah Harun.

img_title Viral Sejoli Mandi Sabunan di Mata Air Gunung Argopuro, Warganet Serukan Blacklist

Di hadapan para santri, Rustini menegaskan bahwa pesantren bukan sekadar tempat untuk mengaji dan menimba ilmu agama. Menurutnya, pesantren juga merupakan ruang untuk membentuk karakter, adab, kepemimpinan, ketangguhan, dan kepedulian sosial.

“Santri adalah bagian penting dari masa depan Indonesia. Bangsa ini membutuhkan generasi yang memiliki ilmu sekaligus akhlak; cerdas sekaligus berintegritas; modern tetapi tetap memiliki akar nilai,” kata Rustini.

img_title Sambangi YKAKI, Rustini Muhaimin: Anak Pejuang Kanker tak Boleh Berjuang Sendirian

Ia juga mengajak para santri putri memahami perjalanan panjang posisi perempuan dalam sejarah. Rustini mengingatkan bahwa pada masa jahiliyah, perempuan menghadapi kondisi yang sangat berat, termasuk praktik pembunuhan terhadap bayi perempuan.

Situasi tersebut, menurutnya, berubah secara mendasar setelah datangnya Islam melalui Nabi Muhammad SAW yang membawa ajaran mengenai kemuliaan dan hak-hak perempuan.

img_title Mas Rio Siapkan Pasir Putih Jadi Wisata Kelas Dunia, Investor Digandeng

Karena itu, Rustini mengajak para santri untuk mensyukuri kesempatan yang mereka miliki saat ini, termasuk kesempatan memperoleh pendidikan dan mengembangkan cita-cita.

“Santri putri memiliki posisi yang sangat strategis karena kelak akan menjadi ibu, pendidik, pemimpin, profesional, pengusaha, aktivis sosial, dan penggerak masyarakat,” ujarnya.

Rustini kemudian berinteraksi langsung dengan para santri dengan menanyakan cita-cita mereka. Ia menyebut beragam cita-cita, termasuk menjadi dokter, sebagai sesuatu yang patut diperjuangkan.

“Santri putri harus berani punya cita-cita besar. Jangan merasa bahwa menjadi perempuan berarti ruang geraknya terbatas. Jadilah perempuan yang berilmu, percaya diri, mandiri, dan berdaya,” tutur Rustini.

Di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi, Rustini juga berpesan agar santri putri mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri pesantren.

“Ayo kuasai teknologinya, pahami informasinya, tetapi tetap jadikan akhlak dan nilai-nilai pesantren sebagai kompas dalam menggunakannya,” pesannya.

Ia meminta para santri tetap membawa nilai-nilai pesantren di mana pun mereka berada, seperti akhlak, tawadhu, keikhlasan, disiplin, dan khidmah.

Halaman Selanjutnya
img_title