FBKK Diminta Perluas Akses Pekerjaan bagi Lulusan SMA dan SMK
- Rachmad Fahrizal Tito
Ia juga meminta pengelola BKK memiliki pemetaan mitra industri yang jelas serta rutin memperbarui informasi kebutuhan tenaga kerja. Dengan demikian, sekolah dapat lebih proaktif mencari peluang kerja bagi lulusannya, bukan hanya menunggu informasi lowongan dari perusahaan.
Selain itu, FBKK didorong mengembangkan sistem koordinasi dan pertukaran informasi antarsekolah. Pengalaman sekolah yang berhasil menjalin kemitraan dengan perusahaan dapat dibagikan agar akses kesempatan kerja semakin merata di berbagai wilayah Jawa Timur.
Aries menyebut peluang kemitraan perlu menjangkau berbagai sektor, mulai dari teknologi, manufaktur, otomotif, perhotelan, pariwisata, jasa, hingga sektor ekonomi lainnya. Informasi kebutuhan industri juga dapat menjadi bahan evaluasi sekolah dalam mengembangkan pembelajaran agar semakin relevan dengan dunia kerja.
Lebih jauh, Aries mengingatkan bahwa keberhasilan BKK dan FBKK tidak hanya diukur dari jumlah lulusan yang mendapatkan pekerjaan. Murid juga harus memiliki karakter dan sikap profesional agar mampu bertahan, berkembang, serta memperoleh kepercayaan di lingkungan kerja.
Ia menekankan lima kemampuan yang perlu dimiliki lulusan, yakni mampu bekerja, dapat dipercaya, mampu bekerja sama, terus belajar, dan menjaga diri.
“Ada lima hal penting yang harus kita siapkan dari anak-anak kita. Mereka harus mampu bekerja, mampu dipercaya, mampu bekerja sama, mampu terus belajar, dan mampu menjaga diri. Lima kemampuan ini sangat penting. Mendapatkan pekerjaan adalah pintu masuk, tetapi bagaimana mereka bisa bertahan, berkembang, dipercaya oleh perusahaan, dan menjadi pribadi yang bertanggung jawab adalah keberhasilan yang sesungguhnya,” tegas Aries.
Menurutnya, kemampuan teknis atau hard skills harus dilengkapi dengan karakter dan perilaku kerja yang baik. Kedisiplinan, kejujuran, tanggung jawab, komunikasi, kemampuan beradaptasi, serta kemauan meningkatkan kompetensi menjadi bekal penting bagi setiap lulusan.
Karena itu, ia mendorong pendampingan karier dimulai sejak murid kelas 10. Program tersebut dapat mencakup pengenalan budaya industri, persiapan wawancara kerja, penyusunan portofolio, hingga penguatan karakter profesional.
“Peran BKK perlu dimulai sejak murid masih berada di bangku kelas 10. Mulai pendampingan karier, pengenalan budaya industri, pembekalan menghadapi wawancara kerja, penyusunan portofolio, hingga penguatan karakter profesional harus menjadi bagian dari upaya mempersiapkan lulusan,” terangnya.