FBKK Diminta Perluas Akses Pekerjaan bagi Lulusan SMA dan SMK
- Rachmad Fahrizal Tito
Surabaya, VIVA Jatim-Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur memperkuat peran Forum Bursa Kerja Khusus (FBKK) untuk memperluas akses pekerjaan bagi lulusan SMA dan SMK. Salah satu langkahnya dengan mendorong pendampingan karier dan pengenalan dunia industri sejak murid masih duduk di kelas 10.
Komitmen tersebut ditandai dengan pengukuhan Pengurus FBKK Provinsi Jawa Timur Tahun 2026 oleh Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai. Kegiatan yang diikuti 300 peserta itu menjadi bagian dari upaya memperkuat kemitraan antara satuan pendidikan dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Aries mengatakan, FBKK memiliki posisi strategis untuk menjembatani kebutuhan dunia pendidikan dengan kebutuhan tenaga kerja. Sekolah tidak cukup hanya membekali murid dengan kompetensi, tetapi juga harus memastikan mereka memiliki akses informasi dan kesempatan memasuki dunia kerja.
“Harapan kami, melalui kepengurusan FBKK yang baru ini, semakin banyak jejaring kerja yang dapat dibangun, semakin luas kemitraan yang bisa dijalin, dan semakin terbuka peluang kerja bagi murid-murid kita. Jangan sampai murid sudah lulus, memiliki kompetensi, tetapi tidak mendapatkan informasi maupun akses untuk memasuki dunia kerja. Di sinilah peran BKK dan FBKK menjadi sangat penting,” ujar Aries.
Menurutnya, perkembangan dunia usaha dan industri berlangsung dinamis seiring perubahan teknologi dan kebutuhan tenaga kerja. Kondisi tersebut menuntut sekolah untuk terus menyesuaikan kompetensi lulusan dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Karena itu, FBKK diharapkan tidak hanya menjadi forum komunikasi antarpengelola Bursa Kerja Khusus (BKK) di sekolah. Organisasi tersebut juga perlu aktif membangun jejaring dengan perusahaan, asosiasi industri, lembaga pelatihan, serta berbagai mitra strategis yang berpotensi membuka kesempatan kerja bagi lulusan.
Aries menekankan, kemitraan yang dibangun harus menghasilkan manfaat konkret bagi murid. Tidak sekadar penandatanganan kerja sama, tetapi juga membuka akses informasi lowongan, rekrutmen tenaga kerja, pemagangan, pelatihan sesuai kebutuhan industri, hingga penempatan kerja.
“Semakin banyak jejaring yang dibangun akan semakin besar pula peluang yang dapat diakses oleh murid. Namun, kemitraan tersebut harus menghasilkan tindak lanjut yang konkret, bukan sekadar penandatanganan kerja sama atau hubungan formal antarlembaga,” jelasnya.
Ia juga meminta pengelola BKK memiliki pemetaan mitra industri yang jelas serta rutin memperbarui informasi kebutuhan tenaga kerja. Dengan demikian, sekolah dapat lebih proaktif mencari peluang kerja bagi lulusannya, bukan hanya menunggu informasi lowongan dari perusahaan.
Selain itu, FBKK didorong mengembangkan sistem koordinasi dan pertukaran informasi antarsekolah. Pengalaman sekolah yang berhasil menjalin kemitraan dengan perusahaan dapat dibagikan agar akses kesempatan kerja semakin merata di berbagai wilayah Jawa Timur.
Aries menyebut peluang kemitraan perlu menjangkau berbagai sektor, mulai dari teknologi, manufaktur, otomotif, perhotelan, pariwisata, jasa, hingga sektor ekonomi lainnya. Informasi kebutuhan industri juga dapat menjadi bahan evaluasi sekolah dalam mengembangkan pembelajaran agar semakin relevan dengan dunia kerja.
Lebih jauh, Aries mengingatkan bahwa keberhasilan BKK dan FBKK tidak hanya diukur dari jumlah lulusan yang mendapatkan pekerjaan. Murid juga harus memiliki karakter dan sikap profesional agar mampu bertahan, berkembang, serta memperoleh kepercayaan di lingkungan kerja.
Ia menekankan lima kemampuan yang perlu dimiliki lulusan, yakni mampu bekerja, dapat dipercaya, mampu bekerja sama, terus belajar, dan menjaga diri.
“Ada lima hal penting yang harus kita siapkan dari anak-anak kita. Mereka harus mampu bekerja, mampu dipercaya, mampu bekerja sama, mampu terus belajar, dan mampu menjaga diri. Lima kemampuan ini sangat penting. Mendapatkan pekerjaan adalah pintu masuk, tetapi bagaimana mereka bisa bertahan, berkembang, dipercaya oleh perusahaan, dan menjadi pribadi yang bertanggung jawab adalah keberhasilan yang sesungguhnya,” tegas Aries.
Menurutnya, kemampuan teknis atau hard skills harus dilengkapi dengan karakter dan perilaku kerja yang baik. Kedisiplinan, kejujuran, tanggung jawab, komunikasi, kemampuan beradaptasi, serta kemauan meningkatkan kompetensi menjadi bekal penting bagi setiap lulusan.
Karena itu, ia mendorong pendampingan karier dimulai sejak murid kelas 10. Program tersebut dapat mencakup pengenalan budaya industri, persiapan wawancara kerja, penyusunan portofolio, hingga penguatan karakter profesional.
“Peran BKK perlu dimulai sejak murid masih berada di bangku kelas 10. Mulai pendampingan karier, pengenalan budaya industri, pembekalan menghadapi wawancara kerja, penyusunan portofolio, hingga penguatan karakter profesional harus menjadi bagian dari upaya mempersiapkan lulusan,” terangnya.
Aries berharap kepengurusan FBKK Jatim yang baru mampu membangun ekosistem penyaluran kerja yang lebih terintegrasi melalui kolaborasi antara Dindik, sekolah, dunia usaha, dunia industri, dan pemangku kepentingan ketenagakerjaan.
“Kita ingin semakin banyak murid Jawa Timur yang tidak hanya lulus dengan membawa ijazah, tetapi juga memiliki kompetensi, mendapatkan kesempatan kerja, dipercaya, mampu bekerja sama, terus belajar, dan mampu menjaga diri. Mari kita bangun jejaring sebanyak mungkin, bukan untuk kepentingan lembaga semata, tetapi untuk membuka masa depan yang lebih baik bagi anak-anak kita,” pungkasnya.