Stok Cukup, Harga Telur di Jatim Malah Merangkak Naik

Ilustrasi telur
Sumber :
  • Nur Faishal/Viva Jatim

Jatim – Harga telur ayam ras di sebagian besar kabupaten/kota di Jawa Timur merangkak naik. Padahal, stok telur ayam ras cukup. Tidak ada kelangkaan telur. Mata rantai distribusi telur diduga jadi penyebab harga tak turun-turun.

img_title Update Harga Kebutuhan Pokok Kamis, 9 Juli 2026

Berdasarkan data dari Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jatim per 28 Agustus 2022, harga rata-rata telur ayam ras di Jatim sebesar Rp29.483 per kilogram. Harga tertinggi terjadi di Kabupaten Gresik, yakni Rp31.500 per kilogram. 

“Tadi beli telur satu kilo Rp31 ribu,” kata Fajar, warga Driyorejo, Kabupaten Gresik.

img_title Update Harga Kebutuhan Pokok Selasa, 7 Juli 2026

Sedangkan harga telur ayam ras terendah terjadi di Tulungagung. Di daerah sentranya telur ayam ras ini,  harganya Rp27.333 per kilogram. Di Kota Surabaya, harga rata-rata telur ayam ras sebesar Rp29.600 per kilogram. Di sejumlah pasar harganya naik menjadi Rp30 ribu per kilogram. 

Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan (Dinkopdag) Surabaya Fauzie Mustaqiem Yos mengatakan, naiknya harga telur ayam ras karena panjangnya jalur distribusi, dari pemasok ke distributor kemudian ke pedagang. Tidak ada yang langsung ke agen.  

img_title Update Harga Kebutuhan Pokok Senin, 6 Juli 2026

“Antisipasinya (agar tidak terus naik), kami kerja sama dengan beberapa daerah terkait yang bisa bantu suplai telur,” kata Fauzie.

Dihubungi terpisah, Ketua Asosiasi Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) Blitar Rofi Yasifun menyampaikan bahwa pada dasarnya stok telur ayam ras masih cukup untuk memenuhi kebutuhan di Jatim. Namun, menurutnya naiknya harga telur saat ini karena meningkatnya permintaan.

Tren kenaikan permintaan dikarenakan banyaknya hajatan yang digelar masyarakat dalam rangka menyambut momen HUT Kemerdekaan RI. Bersamaan dengan itu, saat ini tengah gencar pelaksanaan program bantuan sosial Program Keluarga Harapan atau PKH. 

Rofii menuturkan, sebetulnya harga yang berlaku di pasar saat ini tidak tinggi amat. Dia juga menyebut saat ini sudah masuk pada fase penurunan harga. “Nanti harga normal di pasaran sekitar Rp26.000 per kilogram. Ini harga keseimbangan baru, ya, yang sudah ditetapkan bersama pemerintah. Jadi tidak bisa seperti dulu lagi Rp18.000 per kilogram,” ujarnya.