Ella, Seniman Inggris Riset Banjir Tulungagung Seimbangkan Ilmiah-Mitos

Seniman asal Inggris, Ella Chedburn
Seniman asal Inggris, Ella Chedburn
Sumber :
  • Madchan Jazuli/Viva┬áJatim

Alumnus Seni Rupa Kingston University London ini mengakui kesulitan untuk beradaptasi dalam melakukan riset dan menghasilkan karya untuk pameran. Selaun oase yang berbeda culture, juga kebiasaan orang Indonesia yang cenderung santai.

"Yang membedakan lebih dari ke cara kerjanya sih. Orang-orang disini lebih ke santai kalem, terus baru mendekati ke dekat agak tinggi. Kalau di sana mengerjakan karya (prosesnya) naik-naik-naik dan turun saat hampir selesai," imbuhnya.

Selain itu, Ella juga menggaris bawahi perihal jam karet yang ada di Indonesia. Banyak workshop-workshop hingga performance dalam pameran yang mengambil tema 'The Trees and The Wires'. Sehingga ia bersama seniman, kurator dan crew lainnya harus menjadwal acara satu jam lebih awal.

Kesan selama proses riset dan pameran, ia cukup senang dan bangga bisa mengerjakan kolaborasi. Lantaran, selama ini Ella seorang seniman perupa yang mengerjakan karya sendiri.

"Harapannya bisa berlanjut, bisa sendiri-sendiri, datanya bisa saling tukar, berkolaborasi ataupun koneksi yang sudah terbangun bisa berlanjut ke depan," terangnya.

Sebagai informasi, banyak visualisasi dalam pameran yang akan berakhir pada 27 Mei 2023 mendatang. Mulai foto masa lampau yang diterjemahkan di dalam kain putih, animasi 3D berada di dalam kolam, kostum putih, gambar sejarah Ringin Kurung di kulit hewan, hingga video performance di lokasi bersejarah.

Ella yang pernah mengenyam belajar internasional di luar negeri di Universitas Concordia di Montreal, Kanada dijadwalkan bakal terbang ke negara asalnya pada hari Jum'at 19 Mei 2023.