Ada 1.399 Pasien TBC di Tulungagung, 77 Gagal Pengobatan

Kabid P2P Dinas Kesehatan Tulungagung, Desi Lusiana Wardani.
Sumber :
  • Madchan Jazuli/Viva Jatim

Tulungagung, VIVA Jatim – Pasien Tuberkulosis (TBC) di Tulungagung masih banyak, data dari Dinas Kesehatan per 30 November 2023 ada sebanyak 1.399 pasien. Jumlah tersebut meningkat hanya terpaut beberapa puluh dibanding 2022 dengan terkonfirmasi positif 1.332 pasien dengan 77 pasien gagal.

img_title Pengunjung Meninggal Usai Keluar Wahana Rumah Hantu di Tulungagung, Polisi Selidiki

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Tulungagung, Desi Lusiana Wardani menjelaskan bahwa perkembangan TBC di Tulungagung dari segi temuan kasus sempat terjadi penurunan, baik terduga maupun temuan positif di tahun 2021.

"Yang menjadi PR sama seperti yang sudah saya sampaikan tadi masih ada yang loss to follow up. Artinya masih ada kasus TB yang menghilang sebanyak 77 penderita," ujar Desi Lusiana Wardani, Jum'at, 15 Desember 2023. 

img_title Cabdin Pendidikan Tulungagung-Trenggalek Kenalkan Pendekatan Berbasis Data untuk Sekolah

Oleh sebab itu, pekerjaan rumah yang akan terus dilakukan adalah meningkatkan potensi kegagalan pengobatan bagi pasien. Salah satunya mengajak di luar Dinkes Tulungagung dari Non Govermental Organization (NGO), Muslimat NU, Fatayat NU, Aisyiah dan lain-lain.

Desi berharap pasien bisa sembuh atau pengobatan lengkap, karena TB sudah ada indikator jelas untuk kesembuhan. Ketika selesai pengobatan, kemudian dicek diperiksa ternyata hasilnya sudah negatif sudah dikatakan sembuh.

img_title Jambore ke-3 Bersih-bersih Masjid Diikuti Ratusan Peserta di Tulungagung

"Ini berbeda dengan HIV-Aids tidak ada indikator sembuh, karena pengobatannya harus seumur hidup. Kalau TB ini pengobatannya 6 bulan, ketika belum sembh yang lain itu dilanjutkan 9 sampai 22 bulan maksimal," terangnya. 

Perempuan yang pernah menjabat Kepala UPT Puskesmas Jeli Tulungagung ini mengakui untuk kasus TB anak meningkat bisa dikatakan positif maupun negatif. Desi menambahkan dikatakan positif yaitu karena proses pencarian suspek berhasil, semakin banyak ditemukan sampel semakin mudah dalam proses pemetaan dan treatmen penyembuhan.

Sementara, bisa dikatakan negatif yaitu masih ditemukan kasus TB anak. Sehingga kemungkinan besar tertular dari lingkungan dekat, mulai keluarga, teman maupun orang dekat disekitarnya yang perlu dilakukan pendeteksian lebih lanjut.

"Kalau positifnya semakin banyak menemukan, artinya kita semakin menemukan secara dini yakni sumber penularannya kita temukan. Kalau negatifnya yaitu tadi kok masih ada kasus TB paru," jelasnya.

Dinkes Tulungagung sendiri merasa terbantu dengan adanya pihak-pihak yang ikut membantu penanganan TBC hingga proses penyembuhan. Pasalnya, dari pemerintah sendiri untuk anggaran terbatas, sehingga dari pihak yang lain bisa membantu untuk mengeluarkan untuk langsung ke penderita TB dalam bentuk bantuan atau pengembangan program.

Halaman Selanjutnya
img_title